Eks Mayor Angkatan Darat AS: Netanyahu Berpotensi Gagalkan Upaya Damai AS–Iran

favicon progres.id
donald trump dan netanyahu
Presiden AS Donald J Trump dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu di Washington DC (Foto: CNBC)

PROGRES.ID – Mantan Mayor Angkatan Darat Amerika Serikat, Harrison Mann, menilai Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu kemungkinan akan mencari cara untuk menggagalkan kesepakatan damai antara Amerika Serikat dan Iran yang saat ini mulai terbentuk.

Dalam wawancara terkait perkembangan terbaru di Timur Tengah, Mann menyebut gencatan senjata sementara selama dua pekan antara Washington dan Teheran sebagai perkembangan signifikan, meski tetap menyimpan potensi gangguan.

Menurutnya, langkah Iran menyetujui gencatan senjata cukup mengejutkan. Ia menilai Teheran sebelumnya berada dalam posisi strategis yang kuat, termasuk kendali atas Selat Hormuz, yang berdampak besar terhadap stabilitas energi global.

Mann mengungkapkan bahwa tekanan dari negara-negara Asia, khususnya China dan Pakistan, kemungkinan turut memengaruhi keputusan Iran. Penutupan Selat Hormuz disebut telah memicu krisis energi dan ekonomi global, sehingga mendorong pihak-pihak terkait untuk menekan deeskalasi.

Meski demikian, ia memperingatkan bahwa Israel berpotensi mengambil langkah provokatif untuk menggagalkan proses damai. “Jika gencatan senjata ini bertahan, kita bisa melihat serangan lanjutan dari Israel untuk memancing respons Iran,” ujarnya.

Ia mencontohkan serangan terhadap infrastruktur sipil seperti jalur kereta dan jembatan yang dinilai tidak memiliki urgensi militer tinggi, namun dapat memicu eskalasi baru. Mann juga tidak menutup kemungkinan munculnya operasi terselubung atau serangan terarah untuk memperkeruh situasi.

Menurut Mann, jika Israel terus melanjutkan serangan setelah masa gencatan senjata, Iran kemungkinan akan kembali menutup Selat Hormuz dan meningkatkan tekanan militer.

Di sisi lain, ia menilai Amerika Serikat memiliki pengaruh besar terhadap Israel, terutama melalui dukungan militer dan intelijen. Pengurangan bantuan tersebut dinilai dapat menjadi alat tekan efektif untuk mengendalikan kebijakan Israel.

“Ketergantungan Israel terhadap dukungan militer AS sangat tinggi, terutama dalam situasi konflik multi-front seperti saat ini,” katanya.

Mann juga menyoroti dinamika perang yang menunjukkan bahwa Iran mampu memberikan dampak signifikan terhadap aktivitas ekonomi Israel, meski kekuatan militer kedua pihak berbeda.

Selain itu, ia mengkritik pernyataan Presiden AS Donald Trump yang dinilai tidak berdasar, termasuk klaim mengenai warga Iran yang disebut mendukung serangan terhadap negaranya sendiri. Mann menilai pernyataan tersebut kemungkinan berasal dari informasi yang tidak akurat atau dimanipulasi.

Ia juga mengingatkan bahwa alur informasi di sekitar presiden dapat dipengaruhi oleh pihak-pihak yang memiliki kepentingan tertentu, sehingga berpotensi menghasilkan keputusan yang tidak berbasis fakta.

Terkait konflik di Lebanon, Mann menyebut operasi militer Israel menghadapi keterbatasan, termasuk kekurangan personel dan kemampuan kelompok Hezbollah untuk bangkit kembali.

Ia menilai target militer Israel di Lebanon, seperti mendorong pasukan hingga Sungai Litani, semakin sulit dicapai. Namun, ia memperingatkan bahwa serangan udara tetap dapat berlanjut meski operasi darat dibatasi.

Mann menegaskan bahwa masa dua pekan gencatan senjata akan menjadi periode krusial. Jika berhasil diterjemahkan ke dalam kesepakatan politik, konflik dapat mereda. Namun, sebaliknya, provokasi baru berpotensi mengembalikan kawasan ke dalam eskalasi yang lebih luas.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *