PROGRES.ID – Media Israel mengakui bahwa pengerahan militer di wilayah perbatasan belum mampu mengubah situasi strategis menghadapi Hizbullah di front utara.
Dalam laporan yang dimuat harian Ibrani Maariv, analis militer Avi Ashkenazi menyebut pasukan Israel memang telah ditempatkan di belakang garis perbatasan, namun langkah tersebut dinilai belum memberikan perubahan nyata di lapangan.
“Militer Israel ditempatkan di belakang perbatasan, tetapi di situlah semuanya berakhir. Itu tidak mengubah realitas strategis,” tulis Ashkenazi.
Ia mengungkapkan bahwa kelompok bersenjata dilaporkan sempat mencapai pagar perbatasan dengan tujuan melancarkan serangan ke wilayah Israel.
Menurut Ashkenazi, kondisi tersebut menunjukkan bahwa ancaman keamanan di front utara masih belum terkendali sepenuhnya.
Ia juga menyoroti kemampuan Hizbullah yang disebut masih dapat meluncurkan drone dan roket kapan saja, dengan jumlah serta arah serangan yang mereka tentukan sendiri.
“Fakta lainnya adalah Hizbullah meluncurkan drone dan roket sesuka mereka, dengan jumlah dan arah yang mereka inginkan,” lanjutnya.
Pernyataan itu muncul di tengah meningkatnya ketegangan antara Israel dan Hizbullah di perbatasan Lebanon selatan dalam beberapa bulan terakhir.
Sejak konflik Gaza pecah, baku tembak lintas perbatasan antara militer Israel dan Hizbullah terus terjadi hampir setiap hari, memicu kekhawatiran meluasnya perang regional di Timur Tengah.
Meski Israel terus meningkatkan operasi militer dan sistem pertahanan di wilayah utara, sejumlah pengamat menilai kelompok Hizbullah masih mempertahankan kemampuan serangan yang signifikan, terutama melalui penggunaan drone dan rudal jarak menengah.












