AS Diduga Tingkatkan Tekanan ke Iran Jelang Tenggat Negosiasi, Ancaman Serangan Udara Mengemuka

favicon progres.id
presiden as donald j trump
Presiden AS Donald J Trump (Foto: AFP/Istimewa)

PROGRES.ID – Amerika Serikat disebut tengah meningkatkan tekanan psikologis terhadap Iran menjelang berakhirnya tenggat negosiasi yang berlangsung dalam beberapa hari terakhir.

Sorotan muncul setelah bocornya informasi mengenai batas waktu 72 jam melalui laporan CBS, disertai publikasi video pembom strategis B-2 oleh pejabat senior Gedung Putih. Langkah tersebut dinilai sebagai sinyal terbuka Washington dalam meningkatkan tekanan terhadap Teheran.

Pengamat politik dan penulis jurnalistik, Viva Al-Badawi, menilai manuver media tersebut mencerminkan kebuntuan yang dihadapi pemerintahan Presiden Donald Trump dalam upaya memperoleh konsesi politik dari Iran.

Menurutnya, penggunaan simbol kekuatan militer udara lebih diarahkan untuk memaksa Iran menerima syarat-syarat Washington terkait pengaturan ulang peta konflik kawasan serta penguatan pengaruh Amerika Serikat di Timur Tengah.

“Pamer opsi kekuatan udara bertujuan terutama untuk memaksakan syarat Washington dalam mengubah pengaturan front konfrontasi dan menegaskan pengaruhnya,” tulis Al-Badawi.

Namun di sisi lain, ancaman tersebut dinilai mulai kehilangan efek gentarnya setelah Iran menyatakan kesiapan menghadapi berbagai kemungkinan skenario konfrontasi.

Teheran sebelumnya telah menegaskan bahwa pihaknya siap merespons setiap tindakan militer yang menyasar wilayah maupun kepentingan strategis Iran.

Situasi ini dinilai membuat Washington berada dalam posisi sulit, antara melanjutkan jalur diplomasi atau mengambil langkah serangan terbatas yang berisiko memicu eskalasi lebih luas di kawasan.

Analis memperingatkan bahwa opsi serangan udara terhadap Iran dapat membawa konsekuensi besar, termasuk potensi meluasnya konflik regional dan meningkatnya biaya politik maupun militer bagi Amerika Serikat.

Ketegangan antara Washington dan Teheran terus meningkat di tengah memanasnya situasi geopolitik Timur Tengah, terutama setelah konflik Gaza dan meningkatnya aktivitas militer di sejumlah front regional.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *