PROGRES.ID, TEHERAN – Presiden Iran Masoud Pezeshkian mengumumkan bahwa dana milik Iran senilai US$6 miliar yang selama ini dibekukan di Qatar akan segera dicairkan dan dikembalikan ke negaranya sesuai nota kesepahaman (Memorandum of Understanding/MoU) yang baru-baru ini disepakati antara Iran dan Amerika Serikat di Islamabad.
Dalam pertemuan dengan Ayatollah Agung Shobeiri Zanjani pada Senin (29/6), Pezeshkian menyebut pencairan tersebut merupakan bagian dari total aset Iran sebesar US$12 miliar yang berada di Qatar.
“Berdasarkan rencana yang telah disusun, dana sebesar US$6 miliar dari total US$12 miliar milik Iran di Qatar akan dibebaskan dan dikembalikan ke negara,” kata Pezeshkian.
Ia menambahkan, pemerintah masih terus melakukan langkah-langkah lanjutan agar sisa dana yang belum dicairkan juga dapat segera dipulangkan.
Presiden Iran menilai MoU antara Teheran dan Washington sebagai “kemenangan besar bagi rakyat Iran”. Menurutnya, kesepakatan tersebut juga mencakup pencabutan sanksi terhadap sektor minyak dan petrokimia Iran.
Pezeshkian mengatakan Amerika Serikat pada akhirnya memaksa Israel menerima kesepahaman tersebut, meski rezim Zionis dan sejumlah kelompok monarki Iran masih menentang implementasinya.
Pada 18 Juli lalu, Iran dan Amerika Serikat menandatangani MoU berisi 14 poin yang dimediasi Pakistan. Kesepakatan itu mengatur penghentian permanen permusuhan di seluruh kawasan, termasuk Lebanon, pencabutan blokade laut terhadap Iran dalam waktu 30 hari, serta pemulihan kembali jalur perdagangan melalui Selat Hormuz.
Kedua negara juga memasuki masa perundingan selama 60 hari untuk mencapai kesepakatan komprehensif yang bersifat final.
Sementara itu, Presiden Amerika Serikat Donald Trump sebelumnya menyatakan bahwa keringanan finansial awal dalam MoU tersebut akan digunakan untuk membeli jagung, gandum, dan kedelai dari petani Amerika.
Trump menegaskan tidak akan ada dana tunai yang langsung dikirim ke Teheran. Menurutnya, dana tersebut akan dialokasikan kepada petani Amerika guna membantu mengatasi apa yang disebutnya sebagai “masalah kelaparan” di Iran.
Namun, pernyataan itu dibantah oleh ketua tim negosiasi Iran, Mohammad Baqer Qalibaf. Melalui media sosial X pada Kamis lalu, ia menyebut klaim Washington tidak benar.
“Amerika secara keliru mengklaim bahwa aset Iran yang dicairkan akan digunakan untuk membeli produk pertanian mereka,” tulis Qalibaf.
Dalam kesempatan yang sama, Pezeshkian juga memuji ketahanan rakyat Iran menghadapi tekanan dan ancaman selama perang yang disebutnya sebagai agresi Amerika Serikat dan Israel sejak 28 Februari.
Ia mengatakan, meski musuh telah membunuh Pemimpin Revolusi Islam Ayatollah Seyyed Ali Khamenei, sejumlah menteri, komandan militer, tokoh intelektual, hingga mahasiswa, rakyat bersama angkatan bersenjata tetap bersatu mempertahankan negara dan menggagalkan tujuan lawan.
Menurut Pezeshkian, Amerika Serikat dan Israel telah mengerahkan seluruh kemampuan mereka untuk mengguncang stabilitas Iran melalui tekanan ekonomi serta upaya menciptakan ketidakstabilan di dalam negeri guna menjatuhkan Republik Islam.
“Namun, dukungan dan kehadiran rakyat berhasil menggagalkan seluruh perhitungan musuh,” ujarnya.
Ia juga menegaskan bahwa upaya menghambat pembangunan Iran dengan menargetkan pabrik, fasilitas produksi gas, industri baja, dan sektor petrokimia tidak berhasil mencapai tujuan yang diinginkan.












