PROGRES.ID – Perang Iran berpotensi menjadi bumerang bagi Amerika Serikat. Konflik yang semula diperkirakan dapat diselesaikan dengan cepat justru dinilai bisa memicu krisis energi, memperburuk kondisi ekonomi, serta mempercepat perubahan tatanan geopolitik dunia.

Peringatan tersebut disampaikan ekonom sekaligus akademisi terkemuka, Profesor Jeffrey Sachs, dalam wawancara bersama Cyrus Janssen di kanal YouTube Cyrus Janssen. Wawancara bertajuk Professor Jeffrey Sachs: The Iran War Will Break America? itu membahas konsekuensi perang Iran, kebijakan luar negeri Presiden Donald Trump, hingga persoalan struktural yang dinilai melemahkan Amerika Serikat.

Dalam perbincangan tersebut, Sachs menyampaikan kritik tajam terhadap keputusan Washington terlibat dalam konflik. Menurut dia, persoalan terbesar Amerika bukan semata-mata kekuatan militer lawan, melainkan kebijakan yang menciptakan krisis bagi negaranya sendiri.

Sachs menilai Washington terlalu percaya diri terhadap kemampuannya mengendalikan negara lain. Padahal, dunia telah berubah dengan munculnya kekuatan-kekuatan baru yang semakin mampu menentang dominasi Amerika.

1. Jeffrey Sachs Sebut Perang Iran sebagai Kesalahan Strategis Amerika

Sachs menilai perang Iran sejak awal merupakan konflik yang seharusnya dapat dihindari. Ia mempertanyakan tujuan strategis Amerika Serikat dan menilai kepemimpinan Washington terlalu meremehkan kemampuan Iran mempertahankan pemerintahannya.

Dalam wawancara itu, Sachs menyebut pemerintahan Trump semula menginginkan perubahan rezim Iran dalam waktu sangat singkat. Ia menggambarkan pendekatan tersebut sebagai upaya Washington untuk menjatuhkan pemerintahan yang berkuasa dan menentukan kepemimpinan berikutnya.

Namun, menurut Sachs, pendekatan semacam itu tidak realistis jika diterapkan terhadap Iran.

Negara tersebut memiliki populasi besar, struktur politik dan keamanan yang kompleks, serta kemampuan teknologi dan militer yang tidak bisa begitu saja diabaikan. Karena itu, anggapan bahwa Amerika dapat memaksakan kehendaknya dengan mudah justru berpotensi membawa Washington ke dalam konflik berkepanjangan.

Sachs menilai kesalahan perhitungan tersebut memperlihatkan persoalan mendasar dalam pengambilan keputusan kebijakan luar negeri Amerika.

Alih-alih menghasilkan kemenangan cepat, perang justru berisiko menimbulkan konsekuensi yang lebih luas daripada perkiraan awal.

2. Krisis Selat Hormuz dan Laut Merah Mengancam Pasokan Minyak Dunia

Salah satu kekhawatiran utama Sachs adalah dampak perang Iran terhadap jalur distribusi energi internasional.

Dalam wawancara tersebut, ia menyoroti gangguan yang disebutnya terjadi di Selat Hormuz dan kawasan Laut Merah. Kedua jalur itu memiliki arti penting bagi perdagangan global, khususnya pengiriman minyak dan berbagai komoditas lainnya.

Sachs menyebut harga minyak telah mencapai sekitar US$108 per barel dalam konteks konflik yang dibahas. Ia memperkirakan harga tersebut berpotensi meningkat apabila gangguan terhadap distribusi energi terus berlanjut.

Menurut dia, kenaikan harga minyak tidak hanya menjadi persoalan bagi negara-negara produsen dan konsumen energi di Timur Tengah. Dampaknya dapat merambat ke berbagai negara melalui peningkatan biaya transportasi, produksi, dan distribusi barang.

Ketika energi menjadi lebih mahal, tekanan terhadap biaya hidup masyarakat juga berpotensi meningkat. Perusahaan menghadapi ongkos operasional yang lebih tinggi, sementara konsumen harus menanggung kemungkinan kenaikan harga berbagai kebutuhan.

Sachs juga memperingatkan bahwa gangguan pasokan energi dapat memperburuk kondisi politik dalam negeri Amerika Serikat. Kenaikan harga bahan bakar berpotensi mengurangi kepuasan masyarakat terhadap pemerintah, terutama ketika konflik tidak menunjukkan tanda-tanda penyelesaian.

Meski demikian, angka harga minyak dan gambaran gangguan distribusi yang disebutkan dalam wawancara tersebut merupakan klaim dalam perbincangan, bukan verifikasi independen atas kondisi pasar terkini.

3. Pengaruh Amerika di Timur Tengah Dinilai Semakin Melemah

Perang Iran juga memunculkan pertanyaan mengenai kemampuan Amerika Serikat melindungi kepentingan dan sekutunya di Timur Tengah.

Cyrus Janssen mengangkat persoalan keberadaan pangkalan militer Amerika di kawasan tersebut. Selama bertahun-tahun, kehadiran militer Washington menjadi bagian penting dari strategi keamanan sejumlah negara di kawasan Teluk.

Namun, konflik yang meluas dapat menguji efektivitas pendekatan tersebut.

Sachs mengatakan sejumlah pemimpin negara Teluk sebelumnya masih sangat percaya pada kemampuan Amerika Serikat. Ia mengisahkan pertemuannya dengan sejumlah pemimpin kawasan sebelum perang, ketika mereka menaruh harapan pada kerja sama teknologi dan investasi dengan Washington.

Menurut Sachs, perkembangan konflik kemudian memperlihatkan bahwa ketergantungan pada perlindungan Amerika tidak selalu menjamin stabilitas.

Ia menilai negara-negara di Timur Tengah perlu mempertimbangkan pendekatan diplomatik yang lebih mandiri, termasuk memperkuat hubungan langsung dengan Iran dan negara-negara tetangganya.

Bagi Sachs, dialog regional seharusnya menjadi bagian penting dalam penyelesaian konflik. Ia mempertanyakan mengapa Amerika Serikat harus selalu bertindak sebagai perantara utama antara Iran dan negara-negara Arab.

Pandangan tersebut mencerminkan keyakinannya bahwa stabilitas kawasan akan lebih berkelanjutan apabila negara-negara yang terlibat mampu membangun mekanisme diplomasi mereka sendiri.

4. Dunia Tidak Lagi Bisa Didominasi Amerika Serikat

Salah satu argumen utama Sachs dalam wawancara itu adalah bahwa dominasi global Amerika Serikat semakin sulit dipertahankan.

Ia menyinggung konsep unipolaritas, yakni keadaan ketika satu negara memiliki posisi dominan dalam sistem internasional. Menurut Sachs, gagasan bahwa Amerika dapat mengendalikan arah politik dunia tanpa menghadapi tantangan berarti telah kehilangan relevansinya.

Sachs menghubungkan perubahan tersebut dengan perkembangan China, India, dan negara-negara Asia Tenggara. Penyebaran teknologi juga memungkinkan semakin banyak negara mengembangkan kemampuan yang sebelumnya lebih banyak dikuasai kekuatan besar.

Dalam pandangannya, Iran turut memperlihatkan bahwa negara yang berhadapan dengan Washington tidak selalu dapat dipaksa mengikuti kehendak Amerika.

Sachs juga membandingkan situasi tersebut dengan perang Rusia-Ukraina. Ia berpendapat bahwa kebijakan Barat yang terlalu yakin dapat menekan Rusia telah memperlihatkan keterbatasan kekuatan Amerika dan sekutunya.

Namun, perbandingan tersebut merupakan interpretasi geopolitik Sachs. Berbagai konflik memiliki latar belakang, tujuan, dan dinamika yang berbeda sehingga tidak dapat disamakan begitu saja.

Pesan utama yang ingin disampaikan Sachs adalah bahwa kekuatan militer dan ekonomi yang besar tidak otomatis menjamin keberhasilan dalam mencapai tujuan politik.

Menurut dia, Amerika perlu menyesuaikan kebijakannya dengan realitas dunia yang semakin multipolar.

5. Kebijakan Donald Trump Dinilai Bertentangan dengan Janji America First

Sachs juga mengkritik kebijakan luar negeri Donald Trump yang menurutnya bertentangan dengan janji mengutamakan kepentingan rakyat Amerika.

Trump sebelumnya dikenal membawa slogan America First dan mengkritik keterlibatan Amerika dalam perang berkepanjangan. Namun, dalam penilaian Sachs, pendekatan konfrontatif terhadap Iran, China, dan negara-negara lain justru berisiko memperbesar beban yang harus ditanggung masyarakat Amerika.

Sachs menilai pemerintahannya terlalu sering menggunakan tekanan dan ancaman untuk mencapai tujuan politik.

Ia juga menyoroti perang dagang dengan China serta ketegangan perdagangan dengan Kanada dan Meksiko. Menurut Sachs, kebijakan tarif yang dirancang untuk memaksa mitra dagang mengikuti keinginan Washington justru berpotensi meningkatkan biaya bagi perekonomian domestik.

Dalam pandangannya, kebijakan luar negeri dan perdagangan semestinya diarahkan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat, bukan memperluas konfrontasi.

Sachs berpendapat bahwa Amerika tidak menghadapi ancaman yang mengharuskannya menciptakan konflik dengan begitu banyak negara secara bersamaan.

Ia bahkan menyampaikan bahwa Washington dapat memperbaiki situasi dengan menghentikan tindakan provokatif, mengurangi ketegangan perdagangan, dan kembali mengutamakan diplomasi.