6. Kompleks Industri Militer Disebut Ikut Memperburuk Masalah Amerika
Sachs tidak memandang persoalan Amerika Serikat semata-mata sebagai akibat kepemimpinan Trump. Ia menilai presiden tersebut mempercepat masalah yang telah berkembang selama puluhan tahun.
Salah satu faktor yang disorotnya adalah kompleks industri militer atau military-industrial complex.
Konsep tersebut merujuk pada hubungan antara institusi pertahanan, perusahaan industri militer, dan berbagai kepentingan politik yang dapat memengaruhi kebijakan keamanan suatu negara.
Sachs berpendapat bahwa pengaruh industri pertahanan terhadap kebijakan luar negeri Amerika telah berkembang sejak akhir 1940-an. Ia mengingatkan bahwa Presiden Dwight D. Eisenhower pernah memperingatkan bahaya kompleks industri militer dalam pidato perpisahannya pada Januari 1961.
Menurut Sachs, jaringan kepentingan yang memengaruhi kebijakan Amerika kini tidak hanya melibatkan kontraktor pertahanan. Ia juga menyoroti perusahaan teknologi, lembaga keuangan besar, serta badan pemerintah yang dinilainya kurang memiliki akuntabilitas.
Dalam pandangannya, hubungan antara kepentingan bisnis dan politik dapat mendorong keputusan yang tidak selalu sejalan dengan kepentingan masyarakat luas.
Ia menghubungkan persoalan itu dengan meningkatnya biaya politik, pengaruh pendanaan perusahaan terhadap pemilu, serta hubungan antara sumbangan politik dan kepentingan bisnis.
Meski demikian, penjelasan Sachs merupakan kritik terhadap sistem politik Amerika. Seberapa besar pengaruh masing-masing kelompok terhadap keputusan perang tertentu tetap memerlukan bukti dan penelitian tersendiri.
7. Utang Amerika Serikat Menambah Tekanan terhadap Pemerintah
Selain perang dan kebijakan luar negeri, Sachs mengangkat persoalan utang pemerintah Amerika Serikat yang dalam wawancara tersebut disebut telah mencapai sekitar US$40 triliun.
Ia menilai masalah fiskal Amerika tidak bisa dilepaskan dari kebiasaan politik yang menjadikan pemotongan pajak sebagai janji populer, sementara kenaikan pajak atau pengendalian belanja sering kali sulit diterima secara politik.
Sachs menyinggung pemilihan presiden Amerika pada 1984, ketika Walter Mondale mengusulkan perlunya kenaikan pajak untuk menghadapi persoalan anggaran. Menurut Sachs, kekalahan besar Mondale ikut memperkuat pelajaran politik bahwa kandidat yang menjanjikan kenaikan pajak berisiko kehilangan dukungan pemilih.
Sejak itu, menurut penilaiannya, para politikus semakin enggan menyampaikan kebijakan fiskal yang tidak populer, meskipun kondisi anggaran membutuhkan penyesuaian.
Sachs juga mengkritik janji pemberian uang kepada masyarakat ketika pemerintah menghadapi defisit besar. Ia menilai janji semacam itu sulit dipertanggungjawabkan tanpa perhitungan yang jelas mengenai sumber pendanaan dan dampaknya terhadap utang.
Dalam konteks perang Iran, persoalan fiskal tersebut menjadi semakin relevan. Konflik berkepanjangan berpotensi menambah beban anggaran pertahanan sekaligus memperburuk ketidakpastian ekonomi.
Namun, besarnya tambahan biaya perang dan dampaknya terhadap utang tidak dihitung secara terperinci dalam wawancara tersebut.
8. Sachs Mendorong Trump Mengakhiri Perang dan Kembali ke Diplomasi
Meski melontarkan kritik keras, Sachs tidak sepenuhnya pesimistis terhadap masa depan Amerika Serikat.
Ia justru berpendapat bahwa sebagian besar persoalan yang dihadapi Washington berasal dari keputusan politiknya sendiri. Karena itu, perubahan kebijakan dapat membuka jalan untuk memperbaiki keadaan.
Sachs mendorong Trump menghentikan perang Iran tanpa terjebak pada kebutuhan untuk mengakui kekalahan secara terbuka.
Menurut dia, pemerintah Amerika dapat mengklaim keberhasilan politik jika diperlukan, tetapi yang lebih penting adalah menghentikan eskalasi dan menarik diri dari konflik.
Ia juga meminta Washington menghentikan tindakan yang berpotensi memperluas ketegangan dengan Rusia dan China.
Bagi Sachs, kesalahan terbesar yang harus dihindari adalah mempertahankan kebijakan yang gagal hanya demi membenarkan keputusan sebelumnya. Dalam ilmu ekonomi dan pengambilan keputusan, kecenderungan tersebut dikenal sebagai sunk cost fallacy, yakni terus menginvestasikan sumber daya pada pilihan yang merugikan karena telanjur mengeluarkan biaya besar.
Ia menilai pemerintah perlu berani mengevaluasi kembali strategi yang tidak menghasilkan manfaat sesuai harapan.
Diplomasi, pengurangan ketegangan, dan kerja sama internasional, menurut Sachs, dapat menjadi alternatif yang lebih menguntungkan dibandingkan konfrontasi berkepanjangan.
Kesimpulan: Perang Iran Bisa Menjadi Titik Balik bagi Amerika Serikat
Peringatan Jeffrey Sachs memperlihatkan bahwa dampak perang Iran, dalam pandangannya, jauh melampaui medan pertempuran.
Konflik tersebut berpotensi memengaruhi harga energi, stabilitas ekonomi, hubungan Amerika dengan sekutunya, serta persepsi dunia terhadap kemampuan Washington memimpin tatanan internasional.
Namun, ancaman terhadap posisi global Amerika tidak hanya berasal dari Iran. Sachs melihat persoalan yang lebih mendasar berupa kebijakan luar negeri yang terlalu konfrontatif, pengaruh kepentingan ekonomi terhadap politik, dan lemahnya disiplin fiskal.
Apabila pemerintah Amerika terus memperluas konflik tanpa strategi penyelesaian yang realistis, biaya politik dan ekonominya berpotensi semakin besar.
Sebaliknya, perubahan arah kebijakan dapat membuka peluang untuk meredakan ketegangan dan memperbaiki hubungan internasional.
Apakah perang Iran benar-benar akan menghancurkan Amerika Serikat? Wawancara tersebut tidak membuktikan bahwa keruntuhan itu pasti terjadi. Judulnya lebih tepat dipahami sebagai pertanyaan tentang risiko yang muncul ketika kekuatan besar salah memperhitungkan kemampuan lawan dan konsekuensi kebijakannya sendiri.
Pesan utama Sachs cukup jelas: kekuatan militer tidak dapat menggantikan diplomasi, dan dominasi global tidak menjamin keberhasilan apabila kebijakan yang ditempuh justru memperbesar masalah sendiri.
Sumber utama: Wawancara Cyrus Janssen dengan Profesor Jeffrey Sachs, kanal YouTube Cyrus Janssen, berjudul Professor Jeffrey Sachs: The Iran War Will Break America?.

Komentar