PROGRES.ID – Presiden Iran Masoud Pezeshkian menilai keberadaan pangkalan militer Amerika Serikat (AS) di negara-negara kawasan tidak memberikan manfaat bagi keamanan regional. Sebaliknya, menurut dia, kehadiran militer Washington justru memperbesar ketegangan, memperdalam perpecahan, dan meningkatkan risiko ketidakstabilan.
Pernyataan tersebut disampaikan Pezeshkian saat menerima Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov di Teheran, Senin. Lavrov datang bersama delegasi diplomatik Rusia untuk membahas perkembangan terbaru di tingkat regional maupun internasional.
“Kami meyakini kehadiran pangkalan militer AS di negara-negara kawasan tidak membawa manfaat, baik saat ini maupun pada masa mendatang. Kehadiran tersebut justru meningkatkan ketegangan, memperbesar perpecahan, serta memicu ketidakstabilan dan ketidakamanan,” kata Pezeshkian.
Ia juga mengecam serangan yang disebutnya dilakukan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran. Menurut Pezeshkian, serangan yang menewaskan pemimpin tertinggi Iran, komandan militer, ilmuwan, dan anak-anak sekolah, serta merusak infrastruktur negara, merupakan pelanggaran terhadap hukum dan norma internasional.
Pezeshkian menegaskan bahwa serangan tersebut terjadi ketika Iran masih menempuh jalur dialog dan diplomasi untuk menyelesaikan persoalan.
Ia menolak pendekatan yang mengandalkan kekuatan militer maupun tekanan politik untuk memaksakan kehendak kepada negara lain. Menurutnya, hubungan internasional semestinya dibangun atas dasar saling menghormati, penghormatan terhadap hak setiap bangsa, kerja sama konstruktif, dan multilateralisme.
Pezeshkian mengatakan Iran dan Rusia memiliki pandangan yang sejalan mengenai prinsip-prinsip tersebut.
Iran Dorong Diplomasi dengan Negara Tetangga
Dalam pertemuan itu, Pezeshkian turut menyoroti hubungan historis, budaya, dan keagamaan Iran dengan negara-negara di sekitarnya. Ia menekankan pentingnya memperkuat diplomasi bertetangga serta memperluas kerja sama di antara negara-negara Muslim.
Menurut Pezeshkian, Iran tidak memiliki pertentangan mendasar dengan negara-negara kawasan. Ia menyatakan Teheran siap menyelesaikan berbagai persoalan melalui dialog, saling pengertian, dan mekanisme regional.
PressTV.ir menulis, Presiden Iran itu juga mendorong percepatan pelaksanaan kesepakatan bilateral dengan Rusia. Sektor energi, transportasi, perdagangan, dan pembangkit listrik disebut sebagai sejumlah bidang prioritas kerja sama kedua negara.
Ia menilai Iran dan Rusia dapat berkontribusi terhadap perdamaian dan keamanan berkelanjutan dengan memanfaatkan kapasitas masing-masing serta berbagai mekanisme regional dan internasional.
Pezeshkian turut menyampaikan apresiasi kepada Presiden Rusia, pemerintah, dan masyarakat Rusia atas dukungan mereka selama perang yang disebutnya melibatkan Amerika Serikat dan Israel. Ia menekankan perlunya mempertahankan dukungan timbal balik serta memperkuat hubungan politik dan diplomatik kedua negara.
Teheran, lanjutnya, terbuka terhadap berbagai inisiatif bersama negara-negara kawasan untuk mendorong perdamaian, keamanan, pembangunan ekonomi, pertukaran budaya dan ilmu pengetahuan, serta hubungan antarmasyarakat.
Ia menegaskan bahwa keamanan jangka panjang di kawasan harus bertumpu pada kepercayaan, partisipasi negara-negara regional, dan penghormatan terhadap kepentingan sah seluruh pihak.
Rusia Tegaskan Komitmen Perkuat Hubungan dengan Iran
Lavrov dalam pertemuan tersebut menegaskan komitmen Moskow untuk memperluas kerja sama dengan Teheran. Menurut dia, kedua negara memiliki peluang untuk meningkatkan hubungan di berbagai sektor, termasuk minyak dan gas, komunikasi, media, kebudayaan, transportasi, energi, penelitian ilmiah, dan pendidikan tinggi.
Diplomat senior Rusia itu juga menyebut Moskow dan Teheran memiliki kesamaan pandangan mengenai sejumlah persoalan internasional. Ia menekankan pentingnya konsultasi diplomatik berkelanjutan dan pemanfaatan kapasitas yang dimiliki kedua negara untuk mendukung perdamaian serta keamanan.
Sebelumnya pada hari yang sama, Lavrov telah mengadakan pembicaraan dengan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi. Keduanya kemudian menggelar konferensi pers bersama.
Dalam kesempatan tersebut, Araghchi menyoroti eratnya koordinasi antara Teheran dan Moskow. Ia mengatakan kedua negara berpandangan bahwa persoalan kawasan tidak dapat diselesaikan melalui kekuatan militer, melainkan harus ditangani lewat jalur politik dan diplomasi.
Pejabat Keamanan Iran Bahas Kerja Sama Strategis
Selain bertemu Pezeshkian dan Araghchi, Lavrov juga diterima Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, Mohsen Rezaei, pada Senin malam.
Dalam pertemuan itu, Rezaei menegaskan tekad Iran untuk memperkuat kemitraan strategis dengan Rusia. Ia mengatakan kerja sama kedua negara memiliki dampak strategis terhadap kolaborasi regional serta upaya menjaga keamanan dan stabilitas.
Rezaei menyambut inisiatif Rusia untuk memperluas hubungan di berbagai bidang. Ia secara khusus menyoroti proyek-proyek ekonomi bersama, termasuk penyelesaian koridor transportasi strategis, yang menurutnya dapat memberikan dampak positif bagi stabilitas kawasan.
Mengacu pada kondisi regional setelah perang, Rezaei menegaskan bahwa keamanan dan stabilitas jangka panjang harus dibangun melalui kerja sama di antara negara-negara kawasan.
Lavrov, sementara itu, kembali menegaskan dukungan Rusia terhadap Iran di forum internasional, termasuk Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan Dewan Gubernur Badan Energi Atom Internasional (IAEA).
Ia juga mengecam serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran, termasuk serangan terhadap fasilitas nuklir yang berada di bawah pengawasan IAEA. Lavrov menyebut prospek kerja sama Iran-Rusia mencakup berbagai bidang dan memiliki ruang pengembangan yang luas.
Rangkaian pertemuan tersebut memperlihatkan upaya Teheran dan Moskow untuk mempererat koordinasi politik, keamanan, dan ekonomi di tengah ketegangan regional. Kedua negara sama-sama menekankan diplomasi serta kerja sama multilateral sebagai pendekatan untuk menghadapi persoalan internasional.

Komentar