PROGRES.ID, GAZA – Sejak pecahnya perang antara Israel dan Hamas lebih dari 20 bulan lalu, kekejaman yang dilakukan militer Israel di Gaza semakin menunjukkan ketidakberdayaan mereka dalam menghadapi perlawanan bersenjata Hamas. Hingga awal Juli 2025, lebih dari 56 ribu jiwa, sebagian besar warga sipil Palestina, telah menjadi korban serangan brutal Israel.
Alih-alih menunjukkan kemenangan di medan tempur yang fair, Israel justru terus melancarkan serangan membabi buta ke wilayah sipil. Fakta ini mencerminkan kegagalan mereka menaklukkan kekuatan militer Hamas. Bahkan pada Juni 2025, tercatat 30 tentara Israel tewas dalam pertempuran. Puncaknya terjadi pada awal Juli 2025, ketika sekitar 40 tentara dan perwira Israel tewas dalam penyergapan yang dilakukan pejuang Hamas di kawasan Shuja’iyya.
Komandan operasi Shuja’iyya dari Brigade Al-Quds mengungkapkan kepada Al Jazeera bahwa tubuh-tubuh hangus tentara Israel berserakan di medan tempur, namun media Israel menyembunyikan fakta ini melalui sensor militer.
“Kami menargetkan sekitar 40 tentara dan perwira, menewaskan serta melukai banyak dari mereka. Pasukan musuh kehilangan kemampuan untuk merespons dan hanya bisa melarikan diri sambil berteriak. Kami menyerang mereka dan kendaraan tempurnya yang masuk ke Lapangan Al-Huda di timur Shuja’iyya melalui penyergapan yang telah direncanakan dengan matang sesuai kondisi medan,” ujar Komandan operasi Shuja’iyya tersebut.
Kelebihan Teknologi Tidak Menjamin Kemenangan
Meski Israel dikenal memiliki perlengkapan militer canggih, mereka tetap kesulitan menghadapi taktik gerilya Hamas, khususnya dari Brigade Al-Qassam dan Brigade Al-Quds. Hal ini bahkan diakui oleh sebagian tentara Israel sendiri yang mulai angkat bicara tentang realitas perang yang mereka jalani.
Yonatan, seorang tentara dari Brigade Kfir, harus menghadapi kenyataan pahit kehilangan sahabat dekatnya dalam serangan bom di Jabalia. Trauma mendalam membuatnya meninggalkan posnya, hingga akhirnya ia dihukum penjara selama 28 hari oleh militer Israel.
Omer dari Brigade Givati juga menyampaikan bahwa banyak rekan satu unit, teman sekolah, dan orang-orang dari komunitasnya telah menjadi korban. Ia secara terbuka menyalahkan kelalaian para perwira atas kematian mereka.
Sementara itu, Yair dari Unit Nahal menggambarkan tekanan mental yang luar biasa. Ia bercerita bahwa beberapa perwira bahkan tertidur saat menjalankan operasi penyergapan, sementara dirinya sendiri sempat pingsan akibat stres berat, bahkan ketika sudah kembali ke rumah.
Uri dari Unit elit Yahalom menyatakan bahwa perang ini tidak memiliki tujuan yang jelas. Menurutnya, operasi militer yang berulang di lokasi yang sama hanyalah bentuk kebijakan politik yang sia-sia dan tanpa arah.
Kekerasan terhadap Warga Sipil, Penutup Kekalahan di Medan Perang
Ketidakmampuan Israel menaklukkan Hamas mendorong mereka memilih target yang lebih mudah: warga sipil Gaza yang tak berdaya. Serangan membabi buta terhadap perempuan, anak-anak, dan orang tua di Gaza menjadi bukti nyata bagaimana genosida dijadikan alat utama untuk menutupi kegagalan militer mereka di medan perang.
Serangan kejam ini seolah menjadi bagian dari upaya Israel untuk merebut seluruh wilayah Palestina melalui kekerasan sistematis yang terus berlangsung dari masa ke masa.
Sejarah mencatat, genosida bukan sekadar alat kekuasaan, tapi juga cerminan kegagalan moral dan kemanusiaan. Apa yang terjadi di Gaza hari ini adalah salah satu tragedi kemanusiaan terbesar yang pernah ada, dan dunia terus menyaksikan tanpa mampu menghentikannya.












