PROGRES.ID – Laporan media Iran menyebut operasi militer Amerika Serikat di wilayah Isfahan, Iran tengah, berakhir dengan kegagalan strategis besar. Informasi yang dikutip dari Press TV menyatakan operasi tersebut awalnya bukan misi penyelamatan pilot, melainkan upaya menyerang fasilitas sensitif di kawasan tersebut.
Menurut laporan itu, operasi dilakukan setelah serangkaian pengintaian udara intensif oleh Amerika Serikat dan sekutunya dalam beberapa hari sebelumnya. Dalam tahap awal tersebut, disebutkan sejumlah aset udara hilang, termasuk pesawat serang A-10 dan dua helikopter Black Hawk.
Sumber tersebut juga mengklaim bahwa keputusan pelaksanaan operasi diambil dalam pertemuan tertutup di Gedung Putih di bawah pengawasan langsung Presiden AS, Donald Trump.
Dalam pelaksanaannya, pasukan khusus Amerika dilaporkan diterjunkan menggunakan pesawat angkut C-130 ke sebuah landasan udara terbengkalai yang berada dekat dengan fasilitas strategis Iran. Namun, Iran disebut telah berada dalam kondisi siaga penuh dan diduga telah mengetahui rencana tersebut.
Laporan itu menyebut pasukan Amerika justru masuk ke dalam jebakan. Setelah pesawat pertama mendarat, pesawat kedua yang membawa perlengkapan dan helikopter ringan menjadi sasaran serangan sebelum sempat mendarat sempurna. Beberapa helikopter lainnya yang tiba di lokasi juga disebut ikut menjadi target.
Situasi tersebut memaksa perubahan misi secara mendadak, dari operasi infiltrasi menjadi upaya penyelamatan pasukan yang terjebak. Amerika Serikat kemudian mengirimkan sejumlah pesawat tambahan untuk mengevakuasi personel, dalam operasi yang disebut berlangsung cepat dan penuh tekanan.

Disebutkan pula bahwa sejumlah perlengkapan militer ditinggalkan di lokasi, sementara pesawat-pesawat yang tidak dapat diselamatkan dihancurkan oleh serangan udara Amerika sendiri untuk mencegah jatuh ke tangan Iran.
Laporan itu juga menyoroti bahwa beberapa helikopter tidak sempat digunakan dan hancur di darat atau di dalam pesawat angkut. Setelah evakuasi dilakukan, pesawat tempur Amerika disebut membombardir area sekitar untuk mengamankan penarikan pasukan.
Media Iran menilai operasi tersebut sebagai kegagalan besar dan menyebut pernyataan resmi Amerika terkait misi penyelamatan pilot sebagai upaya menutupi tujuan sebenarnya. Narasi tersebut disebut sebagai bagian dari upaya membentuk opini publik di dalam negeri.
Sejumlah pihak di Iran bahkan membandingkan insiden ini dengan Operation Eagle Claw, yang juga berakhir gagal, dan menilai peristiwa di Isfahan berpotensi menjadi salah satu kegagalan militer terbesar dalam sejarah modern Amerika Serikat.
Hingga kini, belum ada konfirmasi independen dari pihak Amerika Serikat terkait detail klaim tersebut. Namun, laporan ini muncul di tengah meningkatnya ketegangan antara kedua negara dan menambah kompleksitas konflik yang terus berkembang di kawasan.












