Media Israel Sebut Iran Keluar Sebagai Pemenang dan Jadi Adidaya Baru

favicon progres.id
kehancuran pabrik kimia di israel
Kehancuran pabrik kimia Israel usai dihantam rudal Iran (Foto: Telegram)

PROGRES.ID – Surat kabar Israel, Maariv, memuat analisis tajam dari penulis Avi Ashkenazi yang menilai arah konflik terbaru di Timur Tengah menunjukkan perubahan signifikan. Dalam tulisannya, ia menggambarkan situasi perang sebagai pergeseran dari retorika agresif menuju realitas yang lebih kompleks di lapangan.

Ashkenazi menyebutkan bahwa setelah lebih dari 40 hari pertempuran yang menyebabkan kerusakan luas di Israel, posisi Iran dinilai tetap solid. Ia menyoroti bahwa struktur pemerintahan Iran masih bertahan, sementara sejumlah aset strategis, termasuk program nuklir dan kendali atas jalur energi penting seperti Selat Hormuz, tetap berada di bawah kontrol Teheran dan menjadikan selat itu sebagai “ATM” bagi kapal negara mana pun yang melaluinya.

Ia juga menilai hasil konflik sejauh ini mendorong Amerika Serikat dan Israel ke arah kesepakatan yang tidak sepenuhnya menguntungkan mereka. Dalam analisisnya, Ashkenazi menyebut dinamika tersebut berpotensi menciptakan tatanan baru di kawasan, dengan Iran yang muncul sebagai aktor yang semakin berpengaruh.

Perkembangan ini terjadi seiring perubahan sikap Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, yang dilaporkan mulai membuka ruang negosiasi dengan Iran. Trump disebut mempertimbangkan proposal 10 poin dari Teheran sebagai dasar pembicaraan lanjutan, dan menyebutnya sebagai kerangka yang “dapat diandalkan” untuk mencapai kesepakatan.

Sementara itu, laporan menyebut kedua pihak telah menyepakati gencatan senjata sementara selama dua pekan guna memberi waktu bagi proses diplomasi. Iran juga disebut tengah menyiapkan rincian lebih lanjut terkait mekanisme gencatan senjata tersebut.

ilustrasi trump netanyahu vs mojtaba khamenei
Ilustrasi Amerika Serikat-Israel vs Iran (Grok)

Adapun proposal yang diajukan Iran mencakup sejumlah poin utama, antara lain komitmen Amerika Serikat untuk tidak melakukan agresi, pengakuan hak Iran dalam pengayaan uranium, serta pencabutan seluruh sanksi utama dan sekunder. Selain itu, Iran juga menuntut penghentian berbagai resolusi internasional terkait negaranya, kompensasi atas kerugian akibat serangan, serta penarikan pasukan tempur Amerika dari kawasan.

Proposal tersebut juga mencakup penghentian konflik di berbagai front, termasuk di Lebanon yang melibatkan kelompok Hizbullah.

Langkah Washington yang mulai mempertimbangkan proposal tersebut dinilai sebagai sinyal perubahan pendekatan dari strategi konfrontasi menuju jalur diplomasi. Namun, hingga kini belum ada kesepakatan final dan situasi di kawasan tetap dinamis seiring berlanjutnya negosiasi dan tekanan militer di berbagai titik konflik.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *