PROGRES.ID – Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, kembali menunjukkan reaksi putus asa dan memicu kontroversi setelah mengeluarkan ancaman untuk menyerang infrastruktur sipil Iran melalui unggahan di media sosial Truth Social. Dalam pesannya, Trump menyebutkan bahwa serangan terhadap pembangkit listrik dan jembatan di Iran bisa terjadi dalam waktu dekat jika tuntutan Amerika tidak dipenuhi.
Ancaman tersebut langsung ditolak oleh pejabat senior Iran, yang memperingatkan bahwa setiap serangan terhadap infrastruktur sipil akan dibalas dengan serangan serupa terhadap kepentingan Amerika Serikat di kawasan Teluk.
Sejumlah analis menilai pernyataan Trump menunjukkan meningkatnya tekanan dalam konflik yang telah berlangsung lebih dari satu bulan. Profesor Studi Amerika di University College Dublin, Scott Lucas, menilai ancaman terhadap fasilitas sipil berisiko memperluas konflik dan memicu serangan balasan terhadap target sipil di kawasan Timur Tengah.
Di dalam negeri Amerika Serikat, dukungan terhadap perang juga disebut tidak solid. Sejumlah survei menunjukkan sebagian besar warga Amerika menolak perang, bahkan banyak yang menentang kemungkinan pengerahan pasukan darat ke Iran. Kondisi ini dinilai membuat opsi militer menjadi semakin kompleks bagi pemerintah AS.
Sementara itu, penyelamatan seorang awak pesawat Amerika yang sebelumnya jatuh di Iran disebut memberi sedikit ruang bagi pemerintah AS dari tekanan politik. Namun, laporan militer menyebut operasi penyelamatan tersebut juga menimbulkan kerugian, termasuk hilangnya dua pesawat angkut C-130 dan beberapa helikopter dalam misi tersebut, meskipun klaim ini belum dikonfirmasi secara resmi oleh pemerintah AS.
Di sisi lain, Garda Revolusi Iran mengklaim telah melancarkan serangan terhadap fasilitas petrokimia dan kepentingan ekonomi Amerika di kawasan Teluk, termasuk di Uni Emirat Arab, Kuwait, dan Bahrain. Iran memperingatkan serangan akan ditingkatkan jika Amerika benar-benar menargetkan infrastruktur sipil Iran.
Pengamat menilai bahwa jika ultimatum Amerika tidak dipenuhi dan serangan terhadap infrastruktur sipil benar-benar terjadi, dampaknya tidak hanya militer tetapi juga ekonomi global. Gangguan terhadap energi, jalur perdagangan, dan rantai pasok berpotensi memicu kenaikan harga dan bahkan krisis pangan global.
Selain itu, perang ini juga dinilai mulai mengubah peta politik kawasan. Negara-negara Teluk disebut mulai mempertimbangkan kembali hubungan keamanan mereka dengan Amerika Serikat setelah sejumlah serangan justru terjadi di wilayah mereka.
Di Iran sendiri, perang disebut justru meningkatkan dukungan terhadap pemerintah di tengah serangan yang dinilai menyasar wilayah sipil. Analis memperingatkan konflik ini dapat membentuk generasi baru yang semakin menentang Amerika Serikat dan sekutunya.
Dengan ultimatum yang semakin dekat, kawasan Timur Tengah kini berada di titik yang dinilai sangat menentukan, dengan risiko eskalasi yang dapat meluas tidak hanya secara militer, tetapi juga secara ekonomi dan politik global.












