PROGRES.ID – PT Raharja Energi Cepu Tbk. (RATU), perusahaan energi yang terafiliasi dengan Happy Hapsoro, menyampaikan update terbaru terkait langkah ekspansi melalui akuisisi participating interest (PI) di sejumlah blok minyak dan gas. Perusahaan menegaskan ambisi jangka panjangnya: tidak hanya menjadi pemegang hak partisipasi, tetapi berkembang menjadi operator blok migas secara mandiri.
Bidik Sejumlah Blok Migas Strategis
Hingga kini, RATU disebut tengah menjajaki peluang akuisisi PI di beberapa wilayah potensial, seperti Jawa Timur, Sumatra Selatan, dan Kalimantan Timur. Namun, yang paling banyak dibicarakan publik adalah Blok Kasuri di Papua Barat—blok yang sudah dikaitkan dengan RATU sejak perusahaan resmi melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI) awal 2025.
Direktur Utama RATU, Sumantri, menjelaskan bahwa perusahaan aktif mencari aset yang prospektif. Meski terikat perjanjian kerahasiaan, ia memastikan bahwa sejumlah proses akuisisi kini berada pada tahap konkret.
“Untuk blok Kasuri dan blok lainnya, saya belum bisa menyebutkan detail karena NDA. Namun bisa dipastikan, kami sedang mempelajari aset-aset yang potensial,” jelasnya dalam public expose daring, Rabu (26/11/2025) seperti dinukil dari Bisnis.com.
Sumantri menambahkan, proses akuisisi dilakukan melalui dua pendekatan: negosiasi langsung dengan pemilik aset dan partisipasi dalam tender terbuka. Beberapa tender disebut sudah memasuki fase final dan pengumumannya diprediksi keluar dalam satu hingga dua pekan ke depan.
Target Akuisisi: Akhir 2025 hingga Kuartal I 2026
RATU memasang target agresif. Perusahaan berharap dapat merampungkan akuisisi pertama sebelum akhir tahun, atau paling lambat pada kuartal I 2026.
“Kami bekerja keras agar setidaknya di awal tahun depan sudah ada aset yang berhasil kami peroleh,” tegas Sumantri.
Strategi Pendanaan Fleksibel Sesuai Nilai Aset
Terkait pendanaan untuk akuisisi, Sumantri mengatakan mekanismenya sangat bergantung pada besarnya aset yang diincar. Untuk aset berukuran moderat, RATU masih mampu mengandalkan modal internal dan fasilitas pinjaman bank. Namun jika nilai akuisisi terlalu besar, perusahaan mempertimbangkan dua opsi, yakni menggandeng mitra strategis dan mengurangi persentase porsi PI yang diambil.
Direktur RATU Adrian Hartadi menambahkan bahwa struktur keuangan perseroan cukup sehat. DER (debt-to-equity ratio) per kuartal III/2025 turun signifikan menjadi 0,20 kali dari 0,39 kali pada kuartal sebelumnya.
Dengan kondisi tersebut, RATU masih memiliki ruang untuk meminjam hingga sekitar US$164 juta.
“Kami masih terbuka pada pendanaan bank. Opsi obligasi juga memungkinkan, tetapi lebih cocok untuk ekspansi tahun-tahun mendatang,” tutur Adrian.
Per akhir September 2025, RATU membukukan total aset US$66,3 juta, liabilitas US$20,4 juta, serta ekuitas US$45,8 juta.
Rencana Transformasi: Menuju Operator Blok Migas
Direktur RATU Alexandra Sinta Wahjudewanti memaparkan roadmap transformasi perusahaan dalam 6–10 tahun ke depan. Strateginya terbagi dalam tiga fase:
1. Fase Awal (1–3 tahun)
Fokus pada investasi non-operasional
Aksi utama: akuisisi PI pada PSC (production sharing contract) besar tanpa mengoperasikan blok secara langsung
Saat ini, RATU telah memiliki:
- 2,24% PI di Blok Cepu
- 8% PI di Blok Jabung
2. Fase Menengah (3–5 tahun)
Transisi menuju investasi operasional
Mulai mengelola PSC berproduksi skala menengah-kecil secara mandiri
3. Fase Jangka Panjang
Menjadi operator independen di sektor hulu migas
Memperkuat kontribusi terhadap ketahanan energi nasional
“Visi RATU adalah menjadi perusahaan eksplorasi dan produksi migas yang memberikan nilai tambah berkelanjutan bagi seluruh pemangku kepentingan,” tegas Alexandra.
Disclaimer
Artikel ini tidak bermaksud mendorong pembaca untuk membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab pembaca. Progres.id tidak bertanggung jawab atas risiko investasi yang mungkin timbul.












