Benarkah Film Superman Versi James Gunn Tanpa Agenda Politik dan Pro Gaza?

favicon progres.id
superman james gunn
Film Superman

PROGRES.ID – Film terbaru Superman digadang-gadang sebagai reboot ringan dengan nuansa retrofuturistik—penuh aksi seru, robot, dan anjing terbang. Tak ada politik, tak ada propaganda. Setidaknya, itu yang diklaim para pembuat film. Namun, nyatanya, reaksi publik justru berkata lain. Media sosial di Israel meledak dengan kemarahan, menyerukan boikot dan menuding film ini sebagai alat propaganda terselubung. Semua itu dipicu oleh satu hal: sebuah negara fiksi bernama Baravia.

Yang menarik, Baravia bukanlah ciptaan baru. Negara fasis fiktif ini sudah muncul sejak tahun 1939, diciptakan oleh dua kreator Superman yang merupakan Yahudi. Baravia bahkan lebih tua dari negara Israel itu sendiri. Tapi mengapa kemunculan Baravia di film ini kini menimbulkan kegaduhan besar?

Narasi Fiksi yang Terlalu Mirip dengan Realita

Cerita film berpusat pada konflik antara dua negara fiksi: Baravia dan Jahanpur. Baravia digambarkan sebagai bangsa penyerbu, menjatuhkan bom ke pemukiman sipil dan melakukan kekejaman perang. Di sisi lain, Jahanpur adalah bangsa yang tak berdaya, dikhianati dunia internasional dan dibiarkan sendirian.

Jika dilihat sekilas, ini hanyalah plot fiksi biasa. Tapi detail visual dalam film memunculkan tanda tanya besar. Pasukan Baravia berbicara dengan aksen Eropa Timur, berpakaian militer rapi dan terorganisir, menciptakan kesan yang menurut banyak penonton mirip dengan militer Israel. Sementara warga Jahanpur—korban invasi—digambarkan berkulit cokelat, berjanggut, dan mengenakan pakaian khas Timur Tengah atau Asia Selatan.

Tanpa menyebut nama Israel atau Palestina sekalipun, banyak yang merasa narasi ini seperti bayangan realita yang sedang terjadi di Gaza. Dan yang lebih mengejutkan, pihak Israel bahkan sempat mengunggah gambar AI yang menyatakan bahwa “pahlawan sebenarnya adalah IDF (militer Israel)”—sebuah pembelaan atas tuduhan yang tak pernah secara eksplisit diarahkan.

Ketika Fiksi Menyentuh Luka Nyata

Yang membuat film ini menjadi kontroversial bukanlah pesan eksplisitnya, melainkan pantulan tak sengaja dari kenyataan. Penonton di berbagai belahan dunia mulai melihat kesamaan antara fiksi dan dunia nyata. Mereka yang sebelumnya tidak terlalu peduli dengan konflik Palestina-Israel, kini mulai berkata, “Tunggu sebentar, ini terasa sangat familiar.”

Sutradara James Gunn sendiri telah membantah adanya agenda politik dalam film ini. Ia menyebutkan bahwa ceritanya sepenuhnya fiksi dan tidak bermaksud menyindir Timur Tengah. Namun justru karena niat itu tidak ada, reaksi yang muncul menjadi lebih jujur. Sebab film ini berhasil menyoroti kenyataan tanpa disadari, dan itu lebih mengganggu daripada sindiran yang disengaja.

Hollywood, sebagaimana terlihat dari kasus ini, sering lebih berani menceritakan kisah tentang penindasan dan perlawanan dalam dunia fiksi ketimbang menghadapi isu tersebut secara langsung di dunia nyata. Contohnya jelas: Star Wars menggambarkan pemberontakan melawan kekaisaran yang tiranik, sementara Avatar membahas perlawanan suku asli terhadap penjajah. Tapi ketika cerita serupa terjadi di dunia nyata, Hollywood lebih memilih bungkam.

Perubahan Paradigma Penonton Global

Reaksi terhadap film Superman ini bukan sekadar perdebatan kecil di media sosial. Dengan potensi box office menembus $500 juta hanya dalam beberapa minggu, film ini menjadi fenomena global. Dan saat jutaan orang di seluruh dunia menyaksikannya, banyak yang mulai “melihat” untuk pertama kalinya—melihat bahwa kisah fiksi yang menyentuh tentang perlawanan, penjajahan, dan penderitaan, ternyata sangat mirip dengan konflik nyata yang selama ini diabaikan.

Seandainya film ini dirilis beberapa tahun lalu, mungkin takkan menimbulkan efek serupa. Tapi kini, di tengah meningkatnya kesadaran global akan isu Palestina, perbandingan itu menjadi tak terhindarkan. Bahkan ketika tidak dimaksudkan, fiksi bisa membongkar kenyataan paling menyakitkan.

Dan ketika sebuah negara—dalam hal ini Israel—melihat dirinya tercermin dalam sosok antagonis dari cerita fiksi, maka pesan film itu telah melampaui naskahnya. Ia telah menjadi cermin sosial. Sebuah pengingat bahwa kisah pahlawan, penindasan, dan kebenaran tidak hanya milik dunia fiksi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *