AS-Israel Mulai Beda Pendapat Gegara Serangan ke Ladang Gas Iran yang Picu Kekhawatiran Global

favicon progres.id
donald trump
Presiden AS Donald J Trump (TruthSocial)

PROGRES.ID – Ketegangan baru muncul di tengah konflik Timur Tengah setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump melontarkan kritik langka terhadap Israel terkait serangan ke ladang gas South Pars di Iran, yang merupakan salah satu fasilitas gas terbesar di dunia.

Dalam pernyataannya di media sosial, Trump mengaku tidak mengetahui rencana serangan tersebut. Ia bahkan menegaskan agar tidak ada lagi serangan terhadap target energi, kecuali Iran melakukan balasan. Pernyataan ini langsung memicu spekulasi adanya perbedaan sikap antara Washington dan pemerintahan Benjamin Netanyahu.

Klaim Koordinasi Dipertanyakan

Namun, laporan dari koresponden CNN di Yerusalem menyebutkan hal berbeda. Dua pejabat Israel mengungkapkan bahwa serangan ke South Pars justru telah dikoordinasikan dengan Amerika Serikat.

Sejak awal konflik yang telah berlangsung hampir tiga pekan, operasi militer Israel dan AS disebut berjalan dalam koordinasi erat, baik di tingkat politik maupun militer. Hal ini dinilai penting mengingat kompleksitas operasi yang melibatkan serangan udara dan laut secara bersamaan.

Israel juga disebut sengaja menargetkan infrastruktur gas dan listrik, bukan minyak, dengan tujuan menghindari lonjakan harga energi global, khususnya di Amerika Serikat. Namun, strategi ini gagal setelah Iran membalas dengan menyerang fasilitas energi di sejumlah negara di kawasan.

Serangan Meluas di Kawasan

Ketegangan semakin meningkat setelah Iran meluncurkan serangan ke sejumlah fasilitas minyak dan gas di kawasan, termasuk di Qatar, Uni Emirat Arab, dan Kuwait. Sementara itu, Arab Saudi melaporkan berhasil mencegat empat rudal di atas ibu kota Riyadh.

Di sisi lain, Israel dilaporkan memperluas target serangannya hingga ke wilayah utara Iran, termasuk aset angkatan laut di Laut Kaspia. Ini menjadi serangan pertama Israel di wilayah tersebut sejak konflik dimulai.

Selain itu, sumber-sumber keamanan menyebut kemungkinan adanya rencana serangan lanjutan terhadap tokoh-tokoh penting Iran, meski detail target belum diungkap secara resmi.

Analisis: Faktor Energi Jadi Kunci

Dalam wawancara dengan CNN, Mayor Jenderal (Purn) Mark MacCarley menilai pernyataan Trump lebih dipengaruhi oleh pertimbangan politik, khususnya terkait sektor energi.

Menurutnya, stabilitas pasokan energi global menjadi perhatian utama Washington. Serangan terhadap fasilitas energi berisiko memicu krisis besar, terutama di kawasan strategis seperti Selat Hormuz.

“Kerentanan terbesar dunia saat ini ada pada sektor energi. Gangguan di wilayah itu bisa berdampak luas, baik secara ekonomi maupun politik,” ujarnya.

MacCarley juga menilai kecil kemungkinan Iran akan mundur dalam waktu dekat, mengingat sejarah panjang konflik dan kepentingan strategis negara tersebut sejak Revolusi 1979.

Risiko Eskalasi Militer

Situasi semakin kompleks dengan rencana pengerahan pasukan Amerika Serikat ke kawasan. Sebuah kapal militer yang membawa sekitar 2.500 personel dilaporkan tengah menuju Timur Tengah, sementara opsi pengiriman pasukan tambahan masih dipertimbangkan.

Menurut MacCarley, ada dua kemungkinan misi utama:

  • Mengamankan uranium yang diperkaya di Iran
  • Menguasai titik strategis di sekitar Selat Hormuz
  • Namun, kedua opsi tersebut dinilai sangat berisiko tinggi.

“Menempatkan pasukan darat di wilayah Iran berarti menghadapi pertempuran langsung. Ini bukan operasi sederhana,” katanya.

Sinyal perubahan sikap AS?

Pernyataan Trump yang terkesan menegur Israel memunculkan pertanyaan apakah Amerika Serikat mulai mengambil jarak dalam konflik ini.

Meski demikian, para analis menilai konflik masih jauh dari selesai. Dalam perspektif militer, hasil perang tidak hanya ditentukan oleh satu pihak.

“Dalam militer ada istilah ‘musuh juga punya suara’. Artinya, sebaik apa pun rencana, hasil akhir tetap bergantung pada respons lawan,” jelas MacCarley.

Ketidakpastian Global Meningkat

Dengan serangan yang terus meluas dan keterlibatan kekuatan besar, konflik ini berpotensi memicu dampak global yang lebih luas, terutama di sektor energi dan keamanan internasional.

Hingga kini, belum ada tanda-tanda deeskalasi signifikan. Dunia pun kini menyoroti setiap langkah dari Washington, Tel Aviv, dan Teheran yang akan menentukan arah konflik ke depan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *