Ben Caspit: Jika Rudal Hizbullah Sudah Dihancurkan, Apa yang Meledak di Israel Sekarang? Petasan?

favicon progres.id
kota safed jadi sasaran hizbullah
Kota Safed menjadi salah satu sasaran rudal Hizbullah yang diluncurkan dari Lebanon (Foto: Telegram)

PROGRES.ID – Surat kabar Ibrani Maariv melalui analis politik Ben Caspit melontarkan kritik terhadap kepemimpinan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu, terutama terkait narasi kemenangan di tengah konflik yang belum mereda.

Dalam tulisannya, Caspit menilai fokus utama Netanyahu saat ini adalah mempertahankan posisi politiknya melalui kemenangan dalam pemilihan umum. Namun, ia menyoroti bahwa tanpa keberhasilan nyata dalam menghadapi Hizbullah, Hamas, maupun Iran, peluang tersebut dinilai sulit terwujud.

Caspit juga menyinggung upaya Netanyahu untuk membangun citra kepemimpinan melalui pesan-pesan publik yang menekankan peran sentralnya dalam setiap keputusan militer. Narasi seperti “saya memerintahkan, saya mengarahkan, saya menang” terus diulang untuk meyakinkan publik di tengah tekanan yang meningkat.

“Pertanyaan bagi Netanyahu adalah: jika kita telah menghancurkan hampir semua rudal dan roket Hizbullah, apa yang mereka luncurkan sekarang? Petasan?” tulisnya.

Di sisi lain, pertanyaan muncul terkait klaim keberhasilan militer Israel. Jika sebagian besar kemampuan roket Hizbullah telah dihancurkan, Caspit mempertanyakan jenis serangan yang masih terus diluncurkan. Data militer Israel sendiri menyebut sekitar 6.500 roket dan drone telah ditembakkan ke wilayah utara dalam fase konflik terbaru.

Situasi semakin kompleks setelah Israel dilaporkan tetap melanjutkan serangan ke Lebanon, meskipun sempat muncul upaya gencatan senjata antara Iran dan Amerika Serikat. Salah satu syarat yang diajukan Teheran adalah penghentian konflik di seluruh front, termasuk di Lebanon, namun tidak terealisasi.

Konflik antara Israel dan Hizbullah pun terus berlangsung. Serangan udara Israel dilaporkan menyasar sejumlah kawasan di Beirut dan menimbulkan korban jiwa serta luka-luka. Hizbullah menilai langkah tersebut sebagai upaya mengalihkan perhatian dari tekanan di medan darat, di mana mereka mengklaim mampu menahan bahkan merusak sejumlah kendaraan tempur Israel.

Sementara itu, jalur diplomasi belum menunjukkan hasil. Perundingan antara Iran dan Amerika Serikat yang difasilitasi oleh Pakistan dilaporkan berakhir buntu pada Minggu, 12 April 2026. Pihak Iran menilai syarat yang diajukan Washington tidak realistis, sehingga enggan menyetujuinya.

Dengan kondisi militer yang terus memanas dan negosiasi yang belum mencapai titik temu, situasi di kawasan diperkirakan masih akan berlangsung dalam ketidakpastian dalam waktu dekat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *