Di Tengah Isu Gencatan Senjata, Israel Justru Gempur Lebanon, Korban Berjatuhan, Bantuan Kemanusiaan Ikut Dihantam

favicon progres.id
mobil hancur dibom israel
Satu unit mobil hancur dibom dari udara oleh jet tempur zionis dan menewaskan pengemudinya (Foto: PressTV)

PROGRES.ID – Israel kembali melancarkan serangan udara ke wilayah Lebanon selatan, menyasar kawasan sipil dan sejumlah kota, meski beredar laporan bahwa gencatan senjata akan segera diberlakukan. Serangan terbaru ini menyebabkan korban jiwa, luka-luka, serta kerusakan luas di berbagai lokasi.

Gelombang serangan terjadi saat media Al Mayadeen melaporkan adanya peluang tercapainya gencatan senjata antara Lebanon dan Israel yang disebut akan mulai berlaku pada malam hari. Sumber senior yang dikutip media tersebut menyebut kesepakatan itu didorong oleh tekanan Iran dan direncanakan berlangsung selama sepekan, mengikuti masa gencatan senjata antara Iran dan Amerika Serikat.

Namun, sumber tersebut juga memperingatkan bahwa Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, kemungkinan akan berupaya menggagalkan kesepakatan tersebut. Sementara itu, media Israel mengutip pejabat yang membantah adanya persetujuan resmi terkait gencatan senjata.

Di lapangan, intensitas serangan justru meningkat. Pada Rabu dini hari (15/04/2026), serangan udara Israel di kota Jbaa, distrik Nabatieh, menewaskan empat anggota satu keluarga. Di lokasi lain, tepatnya di al-Abbassiyah, distrik Tyre, tiga warga sipil dilaporkan mengalami luka akibat serangan udara.

Tak hanya itu, sebuah kendaraan yang membawa bantuan kemanusiaan turut menjadi sasaran serangan di jalan raya Saadiyat pada Rabu pagi. Rekaman di lokasi menunjukkan sebuah minivan hancur total, sementara bantuan berupa makanan kaleng dan bahan kering berserakan di jalan.

Serangan juga dilaporkan menargetkan kendaraan di wilayah Jiyyeh serta ruas jalan antara Arabsalim dan Habboush. Bahkan, jet tempur Israel turut menggempur lahan pertanian di sepanjang Sungai Litani, memperluas cakupan serangan hingga ke area non-permukiman.

Sebelumnya, sejumlah kota di Lebanon selatan juga menjadi target serangan udara, termasuk al-Babliyah, al-Majadil, Kharbat al-Dweir, Ansariya, Beit Yahoun, Hanine, Borj Qalaouiyeh, al-Ghandouriyah, Tayr Debba, dan al-Bereghliyah, sebagaimana dilaporkan Kantor Berita Nasional Lebanon.

Selain serangan udara, militer Israel dilaporkan melakukan penghancuran terkontrol terhadap rumah-rumah di kota Bint Jbeil, yang semakin memperparah kerusakan di kawasan perbatasan.

Serangan terus berlangsung meskipun sebelumnya diumumkan adanya gencatan senjata antara Iran dan Amerika Serikat yang turut melibatkan Lebanon. Kesepakatan tersebut diumumkan pekan lalu, sekitar 40 hari setelah pecahnya konflik antara AS, Israel, dan Iran.

Menurut Kementerian Kesehatan Lebanon, sejak awal Maret, agresi militer Israel telah menewaskan sedikitnya 2.167 orang, termasuk perempuan dan anak-anak, serta melukai lebih dari 7.000 lainnya. Konflik ini juga memaksa sekitar 1,2 juta warga mengungsi dari wilayah mereka, terutama di Beirut selatan.

Di tengah situasi tersebut, Amerika Serikat pada Selasa menggelar pertemuan diplomatik antara pejabat Lebanon dan Israel yang menuai kontroversi. Presiden Lebanon, Joseph Aoun, menyatakan harapannya agar pertemuan itu menjadi awal berakhirnya penderitaan rakyat Lebanon, khususnya di wilayah selatan.

Namun, pihak Israel menegaskan bahwa pembahasan gencatan senjata tidak menjadi agenda utama. Juru bicara kabinet Israel, Shosh Bedrosian, menyebut fokus pembicaraan adalah pelucutan senjata kelompok Hizbullah, sejalan dengan pernyataan Menteri Luar Negeri Israel, Gideon Saar.

Menjelang pertemuan tersebut, Sekretaris Jenderal Hizbullah, Naim Qassem, mendesak pemerintah Lebanon untuk membatalkan agenda itu, sembari menegaskan bahwa kelompoknya akan terus mempertahankan kedaulatan Lebanon dari serangan Israel.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *