Dibantah Keras! Klaim Kapal Perang AS Masuk Selat Hormuz Ternyata Tak Benar

favicon progres.id
selat hormuz
Peta Selat Hormuz (Dok. Istimewa)

PROGRES.ID – Seorang pejabat keamanan membantah laporan media Axios yang menyebut kapal Angkatan Laut Amerika Serikat melintasi Selat Hormuz pada Sabtu. Otoritas terkait menegaskan bahwa sejak gencatan senjata antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel diberlakukan, tidak ada kapal militer yang melewati jalur strategis tersebut.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baqaei, menyampaikan bahwa memang terdapat indikasi potensi pelanggaran gencatan senjata, namun situasi tersebut berhasil dicegah melalui respons diplomatik cepat serta peringatan tegas dari Angkatan Bersenjata Iran.

Ia merujuk pada pergerakan sebuah kapal perusak milik AS dari Pelabuhan Fujairah yang menuju ke arah Selat Hormuz. Pergerakan itu langsung direspons oleh Iran, baik secara militer maupun diplomatik.

Menurut laporan, militer Iran memantau secara ketat posisi kapal tersebut dan segera melaporkannya kepada delegasi negosiasi Iran yang berada di Pakistan. Delegasi kemudian menyampaikan peringatan tersebut kepada pihak Amerika melalui mediator Pakistan.

Iran juga disebut mengeluarkan peringatan langsung kepada kapal tersebut bahwa jika terus mendekati Selat Hormuz, maka akan menjadi target serangan. Bahkan, Iran memperingatkan bahwa tindakan lanjutan kapal itu dapat berujung pada serangan dalam waktu 30 menit dan berpotensi mengganggu proses negosiasi antara kedua negara.

Respons tegas dari militer Iran, yang dibarengi langkah diplomasi cepat, dilaporkan membuat kapal perang AS tersebut menghentikan pergerakannya. Pendekatan ini dinilai menunjukkan koordinasi erat antara kekuatan militer dan jalur diplomasi Iran.

Mediator dari Pakistan disebut memberikan apresiasi atas langkah Iran yang dinilai tegas namun tetap terkendali dalam menjaga situasi.

Ketegangan ini terjadi di tengah situasi pascakonflik setelah perang selama 40 hari antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel. Konflik tersebut dipicu oleh serangan militer besar-besaran setelah insiden pembunuhan sejumlah tokoh penting Iran pada 28 Februari.

Sebagai respons, Iran melancarkan serangan balasan ke sejumlah target militer AS dan Israel di kawasan, yang menyebabkan kerusakan signifikan pada aset militer kedua pihak.

Upaya meredakan konflik kemudian menghasilkan kesepakatan gencatan senjata selama dua pekan pada 8 April melalui mediasi Pakistan. Dalam proses negosiasi, Iran mengajukan proposal 10 poin yang mencakup penarikan pasukan AS, pencabutan sanksi, serta pengakuan atas kontrol Iran di Selat Hormuz.

Meski demikian, pemerintah Iran menegaskan bahwa mereka tetap berhati-hati dan tidak sepenuhnya percaya terhadap komitmen Amerika Serikat, serta memandang jalur diplomasi sebagai bagian dari kelanjutan strategi konflik.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *