PROGRES.ID, TEHERAN — Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengklaim kehadiran militer Amerika Serikat di kawasan Teluk Persia semakin tertekan. Menurut Teheran, sejumlah kapal perang AS bahkan telah menjauh hingga sekitar 400 kilometer dari Selat Hormuz akibat apa yang disebut sebagai “pengikisan berat” terhadap kemampuan operasional dan moral pasukan Amerika.
Juru bicara IRGC, Brigadir Jenderal Hossein Mohebbi, mengatakan militer AS dinilai tidak mampu mempertahankan pengerahan pasukan dalam jangka panjang di Asia Barat jika kondisi saat ini terus berlangsung.
Dalam keterangannya kepada wartawan pada Rabu, Mohebbi menyebut tekanan terhadap personel, kapal perang, serta kebutuhan logistik Amerika telah mencapai tingkat yang sulit dipertahankan.
“Amerika Serikat tentu tidak akan mampu melanjutkan situasi ini dalam waktu lama karena menghadapi pengikisan berat, baik terhadap moral pasukannya di kawasan maupun persenjataan dan kapal perangnya,” kata Mohebbi.
IRGC Klaim Kapal AS Menjauh dari Hormuz
Mohebbi menyoroti perubahan yang disebutnya terjadi pada pola pengerahan armada Amerika di kawasan.
Ia mengklaim sebelum “Perang Ramadan”, sekitar 30 hingga 40 kapal perang dan kapal militer AS masih berada di dalam Teluk Persia. Namun, menurut dia, kini tidak ada satu pun kapal Amerika yang berada di wilayah tersebut.
“Kapal perang AS telah menjauh setidaknya 400 kilometer dari Selat Hormuz,” ujarnya.
Menurut Mohebbi, pengerahan kekuatan laut dalam skala besar membutuhkan dukungan logistik yang sangat kompleks sekaligus biaya operasional yang tinggi. Ia menilai tekanan tersebut semakin berat karena Iran mengandalkan strategi pertahanan asimetris untuk menghadapi keunggulan konvensional Amerika.
Klaim mengenai posisi terkini kapal-kapal perang AS tersebut belum diverifikasi secara independen.
Iran Klaim Mampu Menyerang Target Jarak Jauh
Untuk memperkuat pernyataannya mengenai kemampuan militer Iran, Mohebbi mengatakan Teheran kini memiliki sistem rudal yang mampu menjangkau sasaran bernilai tinggi dalam jarak ratusan kilometer.
Ia mengklaim Iran beberapa hari sebelumnya berhasil menargetkan sebuah kapal induk pada jarak sekitar 500 kilometer.
Mohebbi tidak memberikan rincian mengenai jenis rudal, lokasi serangan, maupun kondisi kapal yang disebut menjadi sasaran.
Ia juga mengungkit klaim sebelumnya mengenai penangkapan sebuah kendaraan bawah laut tanpa awak milik Amerika di dekat pintu masuk Selat Hormuz.
Menurutnya, keberhasilan tersebut menjadi bukti bahwa Iran memiliki kemampuan pemantauan dan kesadaran situasional yang luas di kawasan perairan strategis tersebut.
“Selat Hormuz adalah selat kekuatan kami,” kata Mohebbi.
Ia menegaskan Iran akan memanfaatkan posisi geografis tersebut untuk menghadapi setiap ancaman dan membuat pihak yang melakukan pelanggaran “menyesal”.
Iran Siapkan Zona Sanksi Maritim yang Lebih Luas
Selain berbicara mengenai posisi kapal perang AS, Mohebbi mengungkap rencana Iran untuk memperluas wilayah pengawasan dan penegakan aturan maritim di sekitar Selat Hormuz.
Menurut dia, zona yang tengah disiapkan tidak hanya mencakup Selat Hormuz, tetapi akan membentang jauh ke wilayah Laut Oman dan Laut Arab.
Mohebbi merujuk pada pernyataan Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, Mohsen Rezaei, yang sebelumnya menyebut adanya rencana pembentukan zona sanksi maritim baru.
Wilayah tersebut disebut akan dimulai dari sekitar pelabuhan Chabahar di tenggara Iran dan mencakup sejumlah jalur laut yang mengarah menuju Selat Hormuz.
Dalam skema yang dijelaskan Mohebbi, Selat Hormuz tetap menjadi titik utama untuk menghadapi kapal secara langsung, sedangkan zona yang lebih luas berfungsi sebagai wilayah pengawasan dan penegakan aturan.
“Jika sebelumnya kapal musuh atau bahkan kapal komersial yang ingin masuk atau keluar tanpa koordinasi akan menghadapi konfrontasi di Selat Hormuz, sekarang wilayah yang ditetapkan jauh lebih luas,” ujarnya.
Kapal Tanpa Koordinasi Terancam Masuk Daftar Sanksi
Mohebbi mengatakan kapal yang memasuki zona baru tersebut tanpa koordinasi dengan Iran akan menghadapi konsekuensi.
Menurut dia, kapal yang masuk tanpa koordinasi dapat dikenai tindakan sanksi. Jika kapal tersebut kemudian berusaha melewati Selat Hormuz, Iran disebut dapat menolak memberikan izin lintas.
Tidak hanya itu, Teheran juga mengancam tidak akan menyediakan layanan pelabuhan, asuransi, maupun dukungan logistik lain yang dibutuhkan kapal tersebut.
“Jika sebuah kapal memasuki zona ini tanpa koordinasi, kapal tersebut akan dikenai tindakan sanksi kami,” kata Mohebbi.
Ia mengatakan koordinat resmi zona maritim tersebut akan diumumkan pemerintah Iran dalam beberapa hari mendatang.
Jika diterapkan, kebijakan tersebut berpotensi memperluas pengaruh Iran terhadap aktivitas pelayaran di kawasan yang menjadi salah satu jalur laut paling strategis dunia.
Namun, sejauh ini rincian mengenai mekanisme penerapan zona tersebut dan respons negara-negara lain belum diketahui. Klaim mengenai perubahan posisi armada AS maupun kemampuan serangan Iran juga masih memerlukan verifikasi independen.

Komentar