PROGRES.ID – Pasukan Israel dilaporkan menghadapi tantangan besar dari penggunaan drone peledak milik kelompok Hizbullah di wilayah Lebanon selatan. Media Israel, Haaretz, menyebut militer Zionis belum memiliki sistem pertahanan efektif untuk menghadapi ancaman yang terus berkembang tersebut.
Dalam laporannya, Hizbullah disebut mengoperasikan drone jenis quadcopter berukuran kecil yang sulit dideteksi maupun dijinakkan menggunakan sistem pengacau sinyal. Seorang tentara Israel mengungkapkan bahwa drone tersebut mampu melayang atau berdiam di atap bangunan sebelum meledak saat mendeteksi pergerakan target di bawahnya.
Kondisi itu membuat mobilitas pasukan Israel di area terbuka semakin berbahaya. Ancaman semakin rumit karena sebagian drone dilaporkan telah menggunakan jaringan serat optik sehingga dapat beroperasi tanpa memancarkan sinyal elektronik.
Teknologi tersebut membuat sistem pelacakan dan pencegatan Israel kesulitan mengenali keberadaan drone sebelum serangan terjadi.
Laporan itu menggambarkan drone Hizbullah sebagai ancaman kompleks karena mampu menjangkau lokasi yang tidak dapat dipantau optimal oleh sistem pengawasan tetap, termasuk kawasan pegunungan, atap bangunan, hingga area padat penduduk. Selain membawa bahan peledak, drone juga digunakan untuk misi pengintaian dan penentuan target serangan.
Media Al Mayadeen menyebut pejabat militer Israel mengakui telah menghadapi ratusan drone serupa dalam beberapa bulan terakhir. Mereka bahkan menyebut ancaman tersebut sebagai persoalan yang sangat serius dengan kemampuan penanganan yang masih terbatas.
“Solusi satu-satunya adalah menempatkan tentara yang terus memantau langit. Tidak ada solusi nyata. Saat drone datang, semuanya sudah terlambat,” ujar seorang perwira Israel dalam laporan tersebut.

Di sisi lain, laporan Haaretz juga menyoroti operasi militer Israel di Lebanon selatan yang disebut lebih banyak berfokus pada penghancuran rumah-rumah warga di desa-desa setempat.
Seorang komandan Israel dikutip mengatakan bahwa misi utama pasukan di lapangan hanyalah melanjutkan penghancuran bangunan, tanpa adanya tujuan operasi lain yang jelas.
Laporan itu menyebut pembongkaran rumah warga dilakukan hampir setiap hari. Para komandan bahkan diwajibkan menyerahkan laporan jumlah bangunan yang dihancurkan, sementara kontraktor disebut memperoleh insentif finansial berdasarkan skala kerusakan yang terjadi.
Situasi tersebut dinilai memperlihatkan jurang yang semakin lebar antara pernyataan politik dan kondisi nyata di lapangan. Tekanan akibat operasi berkepanjangan, ancaman drone yang terus menghantui, serta tujuan misi yang dianggap tidak jelas disebut mulai memengaruhi kondisi fisik dan mental pasukan Israel.












