Geger Dunia! AS Tangkap Maduro, Trump Klaim Siap Kelola Venezuela

favicon progres.id
Presiden venezuela nicolas maduro
Presiden Venezuela Nicolas Maduro (Foto: The Sun)

PROGRES.ID – Presiden Amerika Serikat Donald Trump membuat pernyataan mengejutkan dengan menyebut AS akan mengambil alih pengelolaan Venezuela hingga proses transisi kekuasaan dinilai aman dan terkendali. Pernyataan ini disampaikan hanya beberapa jam setelah operasi militer AS dilaporkan berhasil menangkap Presiden Venezuela Nicolás Maduro dan membawanya ke wilayah Amerika Serikat pada Sabtu malam (3/1).

Dalam konferensi pers di Mar-a-Lago, Florida, Trump mengatakan Washington tidak ingin situasi Venezuela kembali ke kondisi sebelumnya. Menurutnya, pengelolaan sementara diperlukan agar transisi kepemimpinan dapat berjalan “aman, tepat, dan bijaksana”.

Donald Trump dan Melania Trump
Donald Trump dan Melania Trump (Foto: Kstp.com)

Meski demikian, Trump tidak memaparkan secara rinci mekanisme AS dalam mengelola negara berdaulat tersebut, terlebih ketika struktur pemerintahan Venezuela—mulai dari wakil presiden, parlemen, hingga militer—dilaporkan masih berdiri dan menolak langkah tersebut.

Trump mengungkapkan bahwa rencana AS mencakup masuknya perusahaan-perusahaan minyak besar asal Amerika untuk berinvestasi dan memperbaiki infrastruktur energi Venezuela yang dinilai rusak parah. Ia menegaskan embargo minyak terhadap Venezuela tetap berlaku, sementara militer AS berada dalam status siaga penuh.

“Kami akan mengerahkan perusahaan minyak terbesar di dunia untuk berinvestasi miliaran dolar, membangun kembali infrastruktur, terutama sektor minyak, dan mulai menghasilkan pendapatan bagi negara itu,” ujar Trump.

Sementara itu, pesawat yang membawa Maduro dilaporkan mendarat di Bandara Stewart, New York, sebelum pukul 17.00 waktu setempat. Dari sana, Maduro akan dipindahkan ke New York City untuk menghadapi proses hukum atas dakwaan perdagangan narkoba, kepemilikan senjata ilegal, dan konspirasi.

Trump menyebut intervensi di Venezuela dilakukan bersama kelompok yang didominasi pejabat senior AS, dengan fokus utama pada sektor energi dan kesejahteraan rakyat Venezuela. Ia juga mengklaim Menteri Luar Negeri Marco Rubio telah melakukan komunikasi dengan Wakil Presiden Venezuela, Delcy Rodriguez.

Namun, pernyataan Trump berbanding terbalik dengan sikap resmi Caracas. Dalam siaran televisi pemerintah, Rodriguez menyebut penangkapan Maduro sebagai tindakan “penculikan” dan “biadab”. Ia menegaskan Venezuela tidak akan pernah menjadi koloni negara lain dan menuntut pemulangan Maduro.

Terkait opsi militer, Trump menyatakan tidak ragu menempatkan pasukan darat jika diperlukan. Meski begitu, ia mengisyaratkan pengerahan militer bisa dihindari apabila pihak Venezuela “memenuhi keinginan AS”.

Trump menggambarkan operasi penangkapan Maduro sebagai aksi militer terbesar sejak Perang Dunia II, seraya menegaskan tidak ada tentara AS yang tewas maupun peralatan militer yang hilang. Ia juga memastikan Armada AS tetap bersiaga dan semua opsi militer masih terbuka.

Lebih jauh, Trump mengaitkan langkah ini dengan kebijakan luar negeri AS yang merujuk pada Doktrin Monroe, yang menegaskan pengaruh Amerika di Belahan Barat. Ia bahkan memberi sinyal bahwa Kuba berpotensi menghadapi tekanan serupa di masa mendatang.

Trump menegaskan bahwa salah satu alasan utama intervensi adalah keyakinannya bahwa rezim Venezuela telah merampas investasi AS di sektor energi. Ia menyebut tindakan tersebut sebagai salah satu pencurian terbesar terhadap properti Amerika sepanjang sejarah.

Ketika ditanya soal dampaknya terhadap hubungan AS dengan China, Rusia, dan Iran—yang memiliki kepentingan di Venezuela—Trump menekankan bahwa AS siap menjual minyak kepada pihak mana pun setelah situasi terkendali.

“Kami berada di bisnis minyak. Jika mereka ingin membeli, kami akan menjualnya, bahkan mungkin dalam jumlah yang jauh lebih besar,” pungkas Trump. (**)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *