PROGRES.ID – Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) mengeluarkan peringatan keras kepada Amerika Serikat dan sekutunya terkait potensi eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah. Dalam pernyataan terbarunya, IRGC menegaskan bahwa setiap serangan terhadap infrastruktur Iran akan dibalas dengan konsekuensi besar terhadap kepentingan strategis pihak lawan.
IRGC menyebut para pemimpin Amerika dinilai tidak memperhitungkan besarnya risiko yang dapat ditimbulkan jika aset vital mereka menjadi sasaran balasan. Mereka menegaskan bahwa jika “garis merah” Iran dilanggar, respons yang diberikan tidak akan terbatas pada wilayah konflik saat ini.
Dalam pernyataan tersebut, IRGC juga menegaskan bahwa hingga kini mereka belum menargetkan fasilitas sipil. Namun, mereka memperingatkan bahwa mereka tidak akan ragu untuk melakukan tindakan serupa jika serangan terhadap infrastruktur sipil Iran terus berlanjut.
Lebih jauh, IRGC menyatakan bahwa strategi balasan mereka dapat mencakup serangan terhadap infrastruktur energi Amerika Serikat dan mitranya. Langkah ini, menurut mereka, berpotensi mengganggu pasokan minyak dan gas di kawasan untuk jangka waktu panjang.
Peringatan juga ditujukan kepada negara-negara di kawasan yang selama ini menjadi mitra Amerika. IRGC menyebut bahwa selama ini mereka menahan diri untuk tidak menyerang target tertentu demi menjaga hubungan regional dan prinsip netralitas. Namun, ke depan, pertimbangan tersebut disebut tidak lagi menjadi prioritas.
Hal yang sama tegasnya juga diungkapkan Komandan Angkatan Udara Garda Revolusi Iran melalui video yang diunggah di akun Upscrolled miliknya.
“Dan sekarang, fase baru perang, menggunakan sistem peluncuran ganda rudal Fateh dan Khaybar Shakan yang baru dikerahkan: Semua serangan sebelumnya jadi dua kali lipat lebih mematikan.”
Pernyataan ini muncul di tengah meningkatnya ketegangan militer di kawasan, dengan serangkaian serangan dan operasi balasan yang terus terjadi. Hingga kini belum ada tanggapan resmi dari pihak Amerika Serikat terkait ancaman terbaru tersebut, namun situasi dinilai semakin berisiko memicu eskalasi konflik yang lebih luas.












