Israel Klaim Bunuh Yahya Sinwar, Pemimpin Tertinggi Hamas dan Dalang Serangan 7 Oktober

favicon progres.id
yahya sinwar
Pempimpin Hamas Yahya Sinwar (Istimewa)

PROGRES.ID – Israel mengumumkan pada Kamis bahwa pasukannya telah berhasil menewaskan Yahya Sinwar, pemimpin tertinggi Hamas, yang dituduh sebagai otak di balik serangan mematikan 7 Oktober 2023.

Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, menyebut operasi ini sebagai pukulan signifikan bagi Hamas.

“Kematian Yahya Sinwar adalah tonggak penting dalam memundurkan kekuasaan jahat Hamas,” ujar Netanyahu, dilansir dari AFP. Namun, hingga saat ini, Hamas belum memberikan konfirmasi resmi terkait tewasnya Sinwar.

Menurut militer Israel, Sinwar berhasil dibunuh dalam operasi militer di Jalur Gaza selatan setelah pengejaran selama satu tahun. Sinwar dikenal sebagai sosok yang naik melalui jajaran Hamas hingga menjadi pemimpin tertinggi di Gaza, terutama setelah Ismail Haniyeh dilaporkan tewas dalam serangan udara Israel pada Juli lalu.

Serangan di Gaza dan Lebanon Memanas

Pengumuman kematian Sinwar ini datang hanya beberapa minggu setelah Israel melakukan serangan besar di Lebanon, yang berhasil menewaskan pemimpin Hizbullah, Hassan Nasrallah. Dalam beberapa bulan terakhir, Israel juga telah menargetkan dan membunuh sejumlah komandan militan pro-Iran di kawasan tersebut.

Di tengah eskalasi konflik, Herzi Halevi, Panglima Militer Israel, menegaskan bahwa Israel akan terus berperang sampai seluruh teroris yang terlibat dalam serangan 7 Oktober tertangkap.

Halevi menambahkan bahwa pembebasan 251 sandera yang ditawan Hamas adalah prioritas utama. Sejauh ini, 97 orang masih berada di Gaza, dan 34 lainnya telah dikonfirmasi tewas.

“Kami akan terus memulangkan setiap sandera,” ujar Netanyahu.

Tanggapan Amerika Serikat dan Seruan untuk Pembebasan Sandera

Presiden AS, Joe Biden, menyambut berita kematian Sinwar dengan optimisme. Biden menyebut ini sebagai “Hari baik untuk Israel, Amerika Serikat, dan dunia.” Ia juga mengisyaratkan bahwa momen ini bisa menjadi awal bagi masa depan Gaza tanpa Hamas berkuasa.

Di sisi lain, kelompok seperti Forum Keluarga Sandera dan Orang Hilang mendesak Israel untuk memanfaatkan momen ini dalam negosiasi pembebasan sandera melalui jalur diplomasi dan mediator internasional.

Perang di Dua Front: Gaza dan Lebanon

Konflik tidak hanya terjadi di Gaza, tetapi juga meluas ke Lebanon, di mana Hizbullah—sekutu Hamas—membuka front baru dengan meluncurkan serangan lintas batas. Israel menanggapi dengan serangan besar di kota Tyre, basis utama Hizbullah. Pertempuran di Lebanon selatan telah menewaskan lima tentara Israel, menambah total korban militer menjadi 19 orang sejak konflik ini dimulai.

Di sisi lain, 1.418 warga Lebanon telah tewas akibat serangan, berdasarkan laporan Kementerian Kesehatan Lebanon, meski angka sebenarnya diduga lebih tinggi. Israel juga mengeluarkan peringatan evakuasi bagi warga di Lembah Bekaa, salah satu basis kuat Hizbullah.

Kecaman dari PBB terhadap Operasi di Gaza

Di Gaza, serangan udara Israel terus berlangsung dan telah menewaskan 14 orang di sebuah sekolah pengungsi di Jabalia, Gaza utara.

Sementara itu, Volker Turk, Kepala HAM PBB, memperingatkan bahwa setiap pemindahan paksa besar-besaran di Gaza dapat dianggap sebagai kejahatan perang.

Dengan eskalasi yang semakin parah, konflik ini tampaknya belum akan mereda dalam waktu dekat, terutama dengan situasi di Gaza dan Lebanon yang semakin genting.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *