PROGRES.ID – Nama Donald Trump menjadi sorotan setelah pensiunan kolonel militer AS, Douglas Macgregor, menilai Presiden Amerika Serikat itu menerapkan filosofi lama sang mentor, Roy Cohn, dalam konflik melawan Iran.
Menurut Macgregor, meski situasi di lapangan menunjukkan tekanan besar dan hasil yang diperdebatkan, Trump tetap berusaha menampilkan narasi kemenangan. Sikap itu dinilai bukan hal baru, melainkan pola lama yang diwarisi dari Roy Cohn.
Sosok Roy Cohn di Belakang Trump Muda
Roy Cohn dikenal sebagai pengacara kontroversial dan figur berpengaruh di New York pada era 1970-an hingga 1980-an. Ia pernah menjadi penasihat Senator Joseph McCarthy dan memiliki reputasi sebagai sosok yang agresif serta lihai memainkan kekuasaan.
Pada masa awal karier bisnis Trump, Cohn menjadi mentor sekaligus pembela hukum yang sangat dekat dengannya.
Banyak pengamat menyebut gaya komunikasi dan strategi politik Trump hari ini tak lepas dari pengaruh tokoh tersebut.
Lima Prinsip Roy Cohn yang Melekat pada Trump
1. Menyerang Lebih Dulu
Roy Cohn diyakini menanamkan prinsip bahwa ketika diserang, balaslah dengan serangan yang lebih keras.
Pendekatan ini terlihat dalam gaya Trump yang kerap memilih konfrontasi langsung, baik terhadap lawan politik, media, maupun negara lain.
2. Jangan Pernah Akui Salah
Cohn juga dikenal dengan prinsip tidak pernah mengakui kesalahan dan tidak meminta maaf.
Dalam banyak kontroversi, Trump sering mengambil jalur serupa: membantah, menepis, lalu mengganti fokus perdebatan.
3. Gunakan Hukum sebagai Tekanan
Bagi Cohn, gugatan hukum bukan sekadar mencari keadilan, tetapi alat menekan lawan.
Trump selama bertahun-tahun juga dikenal aktif menggunakan jalur hukum dalam sengketa bisnis maupun politik.
4. Selalu Klaim Menang
Apa pun hasil akhirnya, kemenangan harus diumumkan. Itulah salah satu doktrin utama Cohn.
Para pengkritik melihat pola ini kembali muncul dalam narasi Trump soal konflik Iran, ketika keberhasilan diumumkan meski situasi di lapangan belum sepenuhnya jelas.
5. Kuasai Media, Kuasai Persepsi
Roy Cohn sangat memahami pentingnya media dalam membentuk opini publik.
Trump dianggap membawa pelajaran itu ke era digital melalui televisi, konferensi pers, hingga media sosial yang menjadi senjata politik utamanya.
Warisan yang Masih Hidup
Trump pernah menyebut Roy Cohn sebagai teman dekat sekaligus pembela yang sangat keras.
Hubungan itu meninggalkan jejak panjang dalam cara Trump berpolitik: menyerang lebih dulu, menolak mundur, dan terus mengendalikan narasi.
Iran Hanya Bab Baru dari Strategi Lama
Bagi Douglas Macgregor, respons Trump terhadap Iran menunjukkan bahwa warisan Roy Cohn masih hidup di Gedung Putih.
Konflik berubah, lawan berganti, tetapi polanya tetap sama: jika kenyataan tidak menguntungkan, ubahlah persepsinya.












