Jeffrey Sachs Bongkar “Proyek 40 Tahun” Netanyahu: Perang Iran Disebut Sudah Dirancang Lama

favicon progres.id
jeffrey sachs
Jeffrey Sachs (Sumber foto: Zeit.de)

PROGRES.ID – Ekonom dan analis kebijakan publik ternama, Jeffrey Sachs, melontarkan kritik keras terhadap eskalasi perang antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran. Dalam wawancara di kanal YouTube Breaking Points, Sachs menyebut konflik yang kini berkecamuk bukan peristiwa spontan, melainkan bagian dari rencana jangka panjang yang telah disiapkan selama puluhan tahun.

Menurutnya, pernyataan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu yang menyebut serangan terhadap Iran sebagai “mimpi 40 tahun” justru menegaskan dugaan lama bahwa perang ini merupakan proyek geopolitik yang telah dirancang jauh sebelumnya.

“Clean Break” dan Awal Doktrin Perang Tanpa Henti

Sachs mengaitkan situasi ini dengan doktrin “Clean Break” yang muncul pada 1990-an, yang menurutnya menjadi cetak biru strategi agresif Israel di Timur Tengah. Ia menilai kebijakan tersebut mendorong intervensi berulang di berbagai negara di kawasan, dari Irak hingga Suriah, Libya, dan kini Iran.

Ia bahkan menyebut konflik ini sebagai bentuk ambisi hegemoni regional yang melibatkan dukungan kuat dari Washington.

Trump dan Diplomasi yang Dipertanyakan

Dalam wawancara itu, Sachs juga menyoroti peran Presiden AS Donald Trump, yang di satu sisi menyatakan ingin membuka dialog dengan Iran, tetapi di sisi lain tetap melanjutkan serangan militer.

Menurut Sachs, pola “negosiasi lalu serangan” telah berulang kali terjadi. Ia menyinggung kesepakatan nuklir Iran tahun 2015 atau Joint Comprehensive Plan of Action (JCPOA), yang sebelumnya disepakati bersama negara-negara besar dunia. Kesepakatan itu, kata Sachs, sempat menempatkan program nuklir Iran di bawah pengawasan ketat internasional sebelum akhirnya dibatalkan secara sepihak oleh pemerintahan Trump pada 2018.

Sachs berpendapat bahwa langkah tersebut memperburuk ketidakpercayaan dan mempersempit ruang diplomasi.

Sejarah Panjang Ketegangan AS-Iran

petugas israel evakuasi
Petugas melakukan pencarian dan evakuasi korban rudal Iran (Foto: Telegram)

Dalam penjelasannya, Sachs juga mengingatkan bahwa ketegangan AS-Iran bukan fenomena baru. Ia merujuk pada peristiwa 1953, ketika pemerintahan Perdana Menteri Iran saat itu digulingkan melalui operasi rahasia yang melibatkan CIA dan intelijen Inggris.

Sejak saat itu, menurutnya, hubungan kedua negara terus diwarnai intervensi, sanksi ekonomi, hingga konflik tidak langsung di berbagai wilayah.

Dampak Regional dan Kekhawatiran Global

Sachs menilai perang ini berisiko memperluas instabilitas kawasan. Ia menyoroti negara-negara Teluk yang menjadi tuan rumah pangkalan militer AS kini ikut terdampak, baik secara keamanan maupun ekonomi.

Kota-kota seperti Dubai, yang dikenal sebagai pusat bisnis dan pariwisata global, disebutnya menghadapi ancaman reputasi dan kerugian jangka panjang akibat konflik yang meluas.

Ia mengutip peringatan lama Presiden AS John F. Kennedy bahwa negara yang “menunggangi harimau”, kekuatan besar, bisa berakhir menjadi korban.

Eropa, Asia, dan Pergeseran Tatanan Dunia

Sachs juga menyinggung perubahan geopolitik global. Ia membandingkan pendekatan militeristik Barat dengan kemajuan teknologi dan pembangunan ekonomi di Asia, khususnya Tiongkok.

Menurutnya, dunia sedang menyaksikan pergeseran besar: sementara sebagian negara fokus pada investasi dan inovasi, Amerika Serikat justru terjebak dalam konflik berbiaya tinggi yang membebani anggaran dan stabilitas domestik.

Apakah Dunia Menuju Eskalasi Lebih Besar?

Menjawab pertanyaan soal kemungkinan de-eskalasi, Sachs mengingatkan risiko “blowback” atau dampak balik, termasuk potensi serangan teror dan instabilitas jangka panjang.

Ia mempertanyakan berapa lama publik di Amerika dan Eropa akan menerima kebijakan luar negeri yang dianggapnya semakin konfrontatif.

Di tengah situasi yang kian memanas, Sachs menilai dunia berada di persimpangan penting: melanjutkan jalur konflik berkepanjangan atau kembali membuka ruang diplomasi yang nyata.

Kesimpulan

Wawancara Jeffrey Sachs di Breaking Points menghadirkan perspektif kritis terhadap perang AS-Israel melawan Iran. Ia menggambarkan konflik ini sebagai bagian dari strategi lama yang kini mencapai puncaknya.

Dengan ketegangan yang terus meningkat, pertanyaan besar pun muncul: apakah konflik ini akan berkembang menjadi perang regional yang lebih luas, atau masih ada peluang untuk menarik diri dari jurang eskalasi?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *