Jelang Akhir Gencatan Senjata, Iran Siapkan “Kejutan Baru” Hadapi Ancaman Perang

favicon progres.id
rudal khorramshahr
Rudal Iran Khorramshahr-4 (Credit: The Islamic Republik News Agency)

PROGRES.ID – Iran dilaporkan meningkatkan kesiapsiagaan militernya menjelang berakhirnya masa gencatan senjata, dengan menyiapkan sejumlah strategi baru untuk menghadapi kemungkinan pecahnya kembali konflik bersenjata.

Laporan Tasnim News Agency pada Selasa (21/04/2026) yang mengutip sumber internal menyebutkan bahwa Teheran telah mempersiapkan berbagai langkah antisipatif, termasuk skenario operasi militer dan daftar target baru jika perang kembali terjadi.

Menurut sumber tersebut, dalam dua pekan terakhir Iran secara serius memperhitungkan potensi eskalasi ulang. Beberapa pergerakan militer disebut telah dilakukan sebagai bagian dari persiapan menghadapi kemungkinan tersebut.

Situasi ini dipicu oleh meningkatnya ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat, termasuk rencana blokade laut oleh Washington serta tuntutan yang dinilai berlebihan, yang disebut menjadi penghambat dimulainya kembali jalur negosiasi.

Sumber yang sama menyatakan Iran siap memberikan respons keras sejak awal jika konflik kembali pecah, termasuk terhadap kepentingan Amerika Serikat dan Israel di kawasan.

Ketegangan antara kedua pihak bermula dari serangan militer yang terjadi pada 28 Februari, yang kemudian direspons oleh Iran melalui serangkaian serangan balasan berskala besar terhadap sejumlah target strategis di kawasan Asia Barat dan wilayah yang dikuasai Israel.

Setelah konflik selama 40 hari, gencatan senjata sementara yang dimediasi Pakistan diberlakukan selama dua pekan. Meski demikian, situasi di lapangan tetap belum sepenuhnya stabil.

Amerika Serikat diketahui berencana menerapkan blokade terhadap pelabuhan Iran, langkah yang oleh Teheran dianggap sebagai tindakan provokatif dan pelanggaran terhadap kesepakatan gencatan senjata.

Pemerintah Iran juga telah berulang kali memperingatkan bahwa setiap upaya untuk melakukan blokade atau operasi militer di sekitar Selat Hormuz akan dibalas dengan tindakan tegas.

Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, sebelumnya menuduh Washington tidak konsisten dalam menjalankan komitmennya, dengan menyebut adanya pelanggaran berulang terhadap gencatan senjata serta ancaman terhadap wilayah dan aset Iran.

Meski tetap membuka peluang diplomasi, Teheran menegaskan tidak akan menerima tekanan atau syarat sepihak dalam setiap proses perundingan ke depan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *