PROGRES.ID – Kebakaran besar dilaporkan terjadi di kilang minyak Tuapse, wilayah selatan Rusia, setelah serangan drone semalam pada 20 April. Insiden ini terjadi di tengah meningkatnya serangan terhadap infrastruktur energi Rusia yang diyakini menjadi sumber utama pendanaan perang Moskow.
Sejumlah kanal Telegram Rusia yang mengutip kesaksian warga melaporkan terdengar ledakan keras di kawasan pelabuhan Tuapse sebelum kobaran api terlihat membesar di area kilang.
Laporan awal menyebut sedikitnya dua tangki penyimpanan terbakar hebat di kompleks pengolahan minyak tersebut.
Gubernur Akui Serangan
Menukil KyivIndependent.com, Gubernur Krasnodar Krai, Veniamin Kondratyev, membenarkan adanya serangan di pelabuhan Tuapse. Namun, ia tidak menjelaskan secara rinci sasaran utama yang terkena dampak.
Ia menyatakan satu orang tewas dan satu lainnya mengalami luka-luka akibat insiden tersebut.
Hingga kini belum ada verifikasi independen mengenai laporan kerusakan maupun korban.
Kilang Strategis Rusia
Rosneft, sebagai operator fasilitas tersebut, menjadikan kilang Tuapse sebagai salah satu pusat pengolahan minyak terbesar di Rusia.
Kilang itu termasuk 10 terbesar di negara tersebut dengan kapasitas pengolahan sekitar 12 juta ton minyak mentah per tahun.
Kerusakan pada fasilitas ini berpotensi mengganggu distribusi bahan bakar dan pendapatan ekspor energi Rusia.
Ukraina Intensifkan Serangan Energi
Pihak militer Ukraina belum memberikan komentar resmi terkait serangan terbaru ini.
Namun, dalam beberapa bulan terakhir, Kyiv meningkatkan operasi jarak jauh terhadap infrastruktur minyak Rusia dengan tujuan menekan pemasukan Kremlin dari sektor energi.
Presiden Volodymyr Zelenskyy sebelumnya mengatakan serangan terhadap fasilitas energi Rusia menyebabkan kerugian pendapatan minyak hingga US$2,3 miliar hanya pada Maret lalu.
Harga Minyak Dunia Ikut Jadi Faktor
Serangan ke fasilitas energi Rusia terjadi saat harga minyak global melonjak akibat ketegangan di Timur Tengah, termasuk konflik Iran.
International Monetary Fund bahkan baru-baru ini menaikkan proyeksi pertumbuhan ekonomi Rusia untuk 2026, didorong oleh kenaikan harga energi.
Meski demikian, serangan berulang ke kilang dan jalur ekspor minyak dinilai dapat menambah tekanan terhadap ekonomi Rusia dalam jangka panjang.












