PROGRES.ID – Ketegangan diplomatik antara Israel dan Australia kian memanas. Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, melontarkan tudingan keras terhadap Perdana Menteri Australia, Anthony Albanese, dengan menyebutnya sebagai pemimpin “lemah” yang telah mengkhianati Israel dan “meninggalkan komunitas Yahudi di Australia”.
Komentar pedas Netanyahu muncul setelah Australia resmi mengumumkan pengakuannya terhadap negara Palestina, bergabung dengan Inggris, Prancis, dan Kanada yang lebih dulu mengambil langkah serupa.
Netanyahu vs Albanese: Retorika Tajam di Tengah Konflik
Dalam pernyataannya pada Selasa (12/8/2025), Netanyahu menyebut sejarah akan mengingat Anthony Albanese “sebagai politisi lemah yang meninggalkan sekutunya”.
Sementara itu, pemerintahan Australia tak tinggal diam. Menteri Imigrasi Australia, Tony Burke, menyatakan Netanyahu hanya sedang “melampiaskan amarah” setelah Canberra menegaskan dukungan terhadap Palestina.
“Kekuatan bukan diukur dari berapa banyak orang yang bisa dibom atau dibiarkan kelaparan,” ujar Burke dalam wawancara dengan ABC.
Albanese sendiri menegaskan bahwa dirinya tidak tersinggung secara pribadi atas komentar Netanyahu.
“Saya selalu menghormati para pemimpin negara lain dan menjalin komunikasi secara diplomatis,” katanya kepada wartawan.
Pemicu Ketegangan: Penolakan Visa Politisi Sayap Kanan Israel
Awal konflik terbaru ini dipicu ketika Australia membatalkan visa Simcha Rothman, anggota koalisi sayap kanan Netanyahu, yang dijadwalkan menghadiri acara komunitas Yahudi di Sydney.
Tony Burke menegaskan bahwa pemerintah Australia tidak memberi ruang bagi penyebar kebencian dan perpecahan. Keputusan ini mengikuti langkah tahun lalu, ketika Australia juga menolak visa mantan Menteri Kehakiman Israel, Ayelet Shaked.
Sebagai respons, Israel membalas dengan mencabut visa sejumlah perwakilan resmi Australia yang bertugas di Otoritas Palestina. Menteri Luar Negeri Israel, Gideon Sa’ar, bahkan menuduh pemerintah Australia memperburuk gelombang antisemitisme yang meningkat di negara tersebut.
Komunitas Yahudi Australia dan Tuduhan Antisemitisme
Australia dikenal memiliki salah satu populasi penyintas Holocaust terbesar di dunia. Namun, dalam beberapa bulan terakhir terjadi peningkatan kasus serangan antisemitisme terhadap komunitas Yahudi dan institusi mereka.
Meski Rothman batal hadir secara langsung, Australian Jewish Association (AJA) menegaskan acara tetap berlangsung secara virtual.
“Komunitas Yahudi tidak akan tunduk pada tekanan Tony Burke maupun Penny Wong,” tulis AJA dalam pernyataan resminya.
Pengakuan Negara Palestina: Posisi Tegas Australia
Langkah Australia mengakui Palestina sebagai negara berdaulat diumumkan pada awal Agustus 2025. Albanese menegaskan bahwa kebijakan ini lahir dari keprihatinan terhadap krisis kemanusiaan di Gaza, di mana ribuan warga sipil tewas akibat blokade dan serangan militer Israel.
“Melihat warga antre untuk makanan dan air lalu kehilangan nyawa di titik distribusi bantuan adalah sesuatu yang tidak dapat diterima,” ujar Albanese.
Dengan keputusan ini, Australia bergabung bersama 147 dari 193 anggota PBB yang telah mengakui Palestina.
Kritik Global terhadap Netanyahu
Tudingan keras Netanyahu tidak hanya diarahkan kepada Australia. Ia juga menyerang Perdana Menteri Inggris Sir Keir Starmer, Presiden Prancis Emmanuel Macron, dan Perdana Menteri Kanada Mark Carney, dengan menuduh mereka berpihak pada “pembunuh massal, pemerkosa, dan penculik”.
Namun, di dalam negeri Israel sendiri, komentar Netanyahu mendapat kritik. Pemimpin oposisi Israel, Yair Lapid, menyebut serangan verbal Netanyahu justru menjadi “hadiah politik” bagi Albanese.
“Konfrontasi dengan Netanyahu, pemimpin paling beracun di dunia Barat, justru memperkuat posisi seorang pemimpin demokratis,” tulis Lapid di platform X.
Latar Belakang Konflik Gaza
Ketegangan ini tidak lepas dari serangan Hamas pada 7 Oktober 2024, yang menewaskan sekitar 1.200 orang Israel dan menyandera lebih dari 250 lainnya. Sebagai balasan, Israel melancarkan operasi militer besar-besaran di Gaza.
Menurut data Kementerian Kesehatan Gaza yang dikelola Hamas, lebih dari 62.000 orang tewas sejak serangan balasan Israel dimulai.












