Perang Iran Memanas: Jet Tempur AS Jatuh karena Salah Tembak di Kuwait, Pentagon Kini Tegaskan Bukan untuk Ganti Rezim

favicon progres.id
jet tempur f-15
Detik-detik jatuhnya jet tempur F-15 milik AS di Kuwait (Foto: Tangkapan Layar Telegram)

PROGRES.ID – Konflik antara Amerika Serikat dan Iran kembali menjadi sorotan global setelah laporan menyebut sejumlah jet tempur AS jatuh di Kuwait akibat salah tembak (friendly fire). Insiden ini terjadi di tengah eskalasi militer yang meningkat sejak serangan udara dimulai pada Sabtu lalu.

Di saat yang sama, Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth menegaskan bahwa tujuan Washington bukanlah mengganti rezim di Teheran, melainkan menghancurkan ancaman rudal Iran.

Pentagon: “Ini Bukan Irak, Ini Tidak Akan Tanpa Akhir”

Dalam konferensi pers resmi pertamanya sejak operasi militer dimulai, Hegseth tampil bersama Jenderal Angkatan Udara Dan Caine, Ketua Kepala Staf Gabungan AS.

Menanggapi kekhawatiran bahwa konflik ini bisa menyerupai intervensi panjang AS di Timur Tengah, Hegseth menekankan bahwa situasi saat ini berbeda.

“Ini bukan Irak. Ini tidak akan tanpa akhir,” tegasnya.

Ia menjelaskan bahwa misi AS hanya satu: menghancurkan kemampuan rudal Iran yang dinilai mengancam stabilitas kawasan.

Regime Change Bukan Target?

Pernyataan tersebut dinilai sebagai upaya meredam spekulasi bahwa Washington tengah mendorong perubahan kepemimpinan di Iran. Sebelumnya, sejumlah pernyataan dari pemerintahan Presiden Donald Trump dianggap mengarah pada dukungan terhadap pergantian rezim.

Hegseth menegaskan tidak akan ada “jebakan pembangunan bangsa” maupun proyek demokratisasi seperti yang terjadi dalam perang Afghanistan dan Irak.

Namun, ia tetap menyatakan bahwa dengan tewasnya Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, dunia menjadi “tempat yang lebih baik.”

Ia tidak memberikan komentar terkait nasib jajaran kepemimpinan Iran lainnya yang masih bertahan.

Alasan Serangan: Ancaman Rudal dan Nuklir

Dalam pemaparannya, Hegseth menuduh Iran telah melancarkan “perang brutal sepihak” terhadap Amerika sejak Revolusi Islam 1979.

Menurutnya, Teheran mengembangkan rudal dan drone canggih sebagai tameng konvensional untuk menopang ambisi nuklirnya.

Ia juga menuding Iran tidak serius dalam negosiasi pembatasan program nuklirnya.

Sebagai catatan, pemerintahan Trump sebelumnya menarik diri dari kesepakatan nuklir 2015, atau Joint Comprehensive Plan of Action (JCPOA), yang sempat membatasi program nuklir Iran dengan imbalan pelonggaran sanksi.

Belum Ada Sinyal Akhir Konflik

Meski menegaskan tujuan operasi terbatas, Hegseth tidak memberikan indikasi kapan konflik ini akan diakhiri. Presiden Trump sendiri dikenal kerap mengkritik pendahulunya yang membawa militer AS terlibat dalam perang luar negeri berkepanjangan.

Sementara itu, laporan mengenai jet tempur AS yang jatuh akibat salah tembak di Kuwait menambah kompleksitas situasi di lapangan.

Dengan ketegangan yang terus meningkat dan belum adanya peta jalan diplomatik yang jelas, perang Iran–AS berpotensi memasuki fase yang lebih berisiko bagi stabilitas Timur Tengah dan keamanan global.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *