Pertemuan Tak Terduga di Oval Office: Saat Trump dan Mamdani Mengubah Sindiran Menjadi Senyuman

favicon progres.id
trump dan zohran mamdani
Presiden AS Donald Trump dan Zohran Mamdani menjawab pertanyaan jurnalis di Oval Office (Foto: Getty Image via BBC)

PROGRES.ID – Di tengah suhu politik Amerika Serikat yang beberapa bulan terakhir memanas oleh saling sindir dan saling serang, sebuah pemandangan tak biasa terjadi di Oval Office. Presiden AS Donald Trump bertemu Wali Kota terpilih New York City, Zohran Mamdani—sosok yang sebelumnya ia labeli sebagai “komunis”—dalam suasana yang justru berubah menjadi hangat dan penuh pujian.

Padahal, selama masa kampanye, Mamdani, seorang demokrat sosialis, pernah menyebut Trump sebagai “despot”. Namun Jumat itu, di dalam ruangan paling berpengaruh di Gedung Putih, keduanya tampil berdampingan sambil saling melempar senyum. Atmosfer yang tercipta membuat banyak pengamat politik mengernyit tak percaya.

Dari Pertarungan Kata-kata Menjadi Ajang Saling Memuji

Tak lama setelah pertemuan tertutup mereka berakhir, Mamdani berdiri di sisi kanan Trump saat keduanya mulai menjawab pertanyaan media. Trump yang biasanya keras di hadapan lawan politiknya, terlihat santai dan bahkan berkali-kali memuji tamunya tersebut.

“Saya berharap ia bisa menjadi wali kota yang hebat,” ujar Trump sambil menatap Mamdani. Sesaat kemudian, ia menambahkan, “Saya yakin dia bisa melakukan pekerjaan yang sangat baik.”

Pujian seperti itu jelas jauh dari nada serangan selama kampanye sebelumnya.

Menghindari Pertanyaan Sensitif, Menekankan Harmoni

Ketika wartawan mengingatkan keduanya pada pernyataan-pernyataan pedas di masa pemilu, Trump dan Mamdani memilih tak membalas provokasi. Bahkan ketika seorang wartawan bertanya apakah Mamdani menganggap Trump seorang “fasis”, Trump justru menepuk lengan Mamdani sambil berseloroh, “Tak apa, kamu bisa bilang ‘ya’. Itu lebih mudah daripada menjelaskan.”

Yang juga mengejutkan adalah saat Trump ditanya apakah ia merasa sedang berdiri di samping “seorang jihadist”, merujuk pada serangan politik dari sekutunya, Elise Stefanik. Dengan cepat Trump menjawab, “Tidak, tentu saja tidak.”

Ikatan Kota yang Sama: Queens

Meski berasal dari latar belakang politik berbeda, keduanya memiliki satu kesamaan penting: mereka sama-sama warga New York, khususnya dari borough Queens. Trump tumbuh di Jamaica Estates, sementara Mamdani kini tinggal di Astoria.

“Ini tentang kecintaan bersama pada kota kami,” ujar Mamdani.

Trump pun bernostalgia tentang New York, bahkan sempat berkata bahwa dalam kehidupan politik yang berbeda, ia mungkin ingin menjadi wali kota.

Affordability: Persimpangan Kepentingan yang Menyatukan

Jika ada satu alasan mengapa pertemuan ini berlangsung mengejutkan hangat, itu adalah persoalan besar yang sedang dihadapi New York: krisis keterjangkauan biaya hidup. Dari biaya sewa hingga harga kebutuhan pokok, keduanya sepakat bahwa masalah tersebut harus menjadi prioritas.

Mamdani menegaskan bahwa diskusi mereka berfokus pada bagaimana “menghadirkan kembali keterjangkauan bagi warga New York”. Setiap kali mendapat pertanyaan sulit mengenai perbedaan pandangan politik, ia selalu kembali ke isu itu.

Trump pun menunjukkan nada serupa. Setelah memenangkan pemilu dengan kampanye melawan inflasi, ia berusaha menampilkan diri sebagai pemimpin yang mampu menawarkan stabilitas ekonomi.

Kesepahaman soal Keamanan dan Imigrasi

Meski berasal dari spektrum politik yang sangat berbeda, keduanya menemukan titik temu pada isu kriminalitas. Trump mengatakan ia yakin Mamdani tidak ingin melihat tingkat kejahatan meningkat, sebagaimana dirinya. Ia bahkan menyebut akan merasa aman tinggal di kota yang dipimpin Mamdani.

Dampak Politik: Mengubah Narasi yang Sudah Disiapkan?

Chemistry yang terlihat dalam pertemuan itu mungkin menjadi tantangan bagi strategi Republik menjelang pemilu paruh waktu 2026. Sebelumnya, Mamdani direncanakan menjadi “tokoh momok” untuk menyerang Partai Demokrat—dikonstruksikan sebagai sosok anti-polisi, anti-kapitalisme, dan anti-Israel.

Namun, kedekatan yang diperlihatkan Trump justru dapat mematahkan narasi itu.

“Dia akan mengejutkan beberapa orang konservatif,” ujar Trump, suatu pernyataan yang tentu tak pernah diprediksi akan keluar dari mulutnya beberapa bulan lalu.

Akankah Gencatan Senjata Ini Bertahan?

Mamdani baru akan resmi menjabat pada 1 Januari. Sampai saat itu tiba, Trump mengatakan satu hal yang cukup mengejutkan dari seorang presiden yang terkenal temperamental:

“Untuk saat ini, saya akan mendukungnya.”

Apakah kehangatan itu sekadar momen politik atau awal dari hubungan kerja yang panjang antara Gedung Putih dan Balai Kota New York? Waktu yang akan menjawabnya. Yang jelas, hari itu di Oval Office, dua sosok dengan ideologi kontras menunjukkan bahwa politik kadang bisa menghadirkan kejutan—bahkan dalam bentuk senyuman.`

Sumber: BBC.co.uk

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *