PROGRES.ID – Ketua Parlemen Iran Mohammad Baqer Qalibaf menyoroti rapuhnya fondasi sistem keuangan Barat di tengah meningkatnya ketegangan di Selat Hormuz. Ia menilai, gejolak pasar global saat ini memperlihatkan betapa besar pengaruh Iran terhadap jalur energi dunia.
Melalui pernyataan di media sosial pada Minggu malam, Qalibaf mengkritik reaksi pasar yang dinilai lebih didorong oleh sentimen dibandingkan dengan faktor fundamental. Ia membandingkan perdagangan minyak global yang masih memiliki acuan nyata dengan pasar obligasi pemerintah AS yang disebutnya lebih bergantung pada persepsi.
Komentar tersebut muncul seiring lonjakan harga minyak dunia setelah respons tegas Iran terhadap sejumlah tindakan yang dianggap provokatif dari Amerika Serikat, termasuk serangan terhadap kapal komersial Iran. Harga minyak mentah jenis Brent dilaporkan naik secara signifikan, mencerminkan kekhawatiran pasar atas potensi gangguan di Selat Hormuz—jalur strategis yang dilalui sebagian besar pasokan minyak global.
Qalibaf menilai, meski pasar minyak masih memiliki tolok ukur fisik seperti harga acuan Brent, sebagian besar sistem keuangan Barat, khususnya pasar obligasi AS, lebih rentan karena bertumpu pada spekulasi dan sentimen.
Sejumlah pengamat melihat volatilitas pasar ini berkaitan erat dengan sikap Iran yang konsisten mempertahankan kedaulatan wilayahnya. Mereka menilai strategi Teheran, yang mengandalkan ketahanan ekonomi dan kekuatan defensif, mampu bertahan dari tekanan sanksi dan kebijakan maksimal yang selama ini diterapkan oleh Washington.
Di sisi lain, kebijakan negara-negara Barat yang kerap mengandalkan tekanan militer dan ekonomi dinilai semakin memperlihatkan keterbatasan pengaruhnya di kawasan.
Ketegangan di sekitar Selat Hormuz terus menjadi perhatian pasar global. Bagi Iran, wilayah tersebut bukan sekadar titik rawan, melainkan instrumen strategis yang memperkuat posisinya dalam peta energi dunia.












