PROGRES.ID – Seorang analis geopolitik yang dikenal lewat kanal YouTube Predictive History, Jiang Xueqin, kembali menjadi sorotan setelah prediksinya tentang konflik antara Amerika Serikat dan Iran ramai diperbincangkan.
Dalam wawancara dengan kanal YouTube Breaking Points, profesor berkebangsaan Tiongkok-Kanada yang menggunakan pendekatan teori permainan (game theory) untuk menganalisis sejarah dan geopolitik itu menyatakan bahwa perang antara Washington dan Teheran berpotensi mengubah tatanan dunia secara permanen.
Prediksi yang Mulai Terbukti
Dalam sebuah kuliah pada tahun 2024, Jiang membuat tiga prediksi besar:
- Donald Trump akan memenangkan pemilu AS.
- Amerika Serikat akan terlibat dalam perang dengan Iran.
- Amerika Serikat akan kalah dalam konflik tersebut.
Dua prediksi pertama telah terjadi dan terbukti. Kini, perhatian tertuju pada prediksi ketiga yang dianggap paling mengejutkan.
Menurut Jiang, perkembangan perang saat ini menunjukkan bahwa Iran memiliki sejumlah keunggulan strategis.
“Iran sudah mempersiapkan konflik ini selama lebih dari 20 tahun,” katanya. Ia menyebut konflik ini dipandang sebagai perang melawan “musuh besar” dalam narasi ideologis Iran.
Strategi Iran: Serang Ekonomi Global
Profesor Jiang menilai strategi Iran tidak hanya menargetkan militer Amerika, tetapi juga infrastruktur ekonomi global.
Ia menyoroti potensi serangan terhadap fasilitas vital di negara-negara Teluk seperti:
- Arab Saudi
- Uni Emirat Arab
- Bahrain
- Qatar
Salah satu target yang disebut sangat rentan adalah pabrik desalinasi air, fasilitas yang mengubah air laut menjadi air tawar.
Menurutnya, sekitar 60% pasokan air di kawasan Teluk berasal dari fasilitas tersebut. Jika sebuah drone murah menghancurkan fasilitas itu, kota besar bisa mengalami krisis air dalam waktu singkat.
“Bayangkan kota berpenduduk 10 juta orang kehilangan air hanya dalam dua minggu,” ujarnya.
Selain itu, Iran juga disebut berupaya menutup jalur perdagangan penting seperti Selat Hormuz, yang menjadi jalur utama perdagangan minyak dan pangan di kawasan.
Masalah Besar Militer Amerika
Jiang juga mengkritik struktur militer Amerika yang menurutnya tidak dirancang untuk perang modern berbiaya rendah.
Sistem pertahanan udara Amerika menggunakan teknologi canggih dengan biaya sangat mahal. Akibatnya, terjadi ketimpangan biaya dalam perang.
Contohnya:
- Drone Iran: sekitar $50.000
- Rudal pencegat Amerika: bisa mencapai jutaan dolar
Situasi ini membuat perang jangka panjang menjadi tidak berkelanjutan secara ekonomi bagi Washington.
Ia juga menyinggung laporan bahwa satu rudal balistik Iran pernah diadang oleh 11 interceptor, namun tetap berhasil lolos.
Ancaman bagi Sistem Petrodollar
Jiang berpendapat bahwa konflik ini juga berpotensi mengguncang sistem petrodollar, yang selama puluhan tahun menjadi fondasi kekuatan ekonomi Amerika.
Negara-negara Teluk selama ini menjual minyak dalam dolar AS dan kemudian menginvestasikan kembali keuntungan tersebut ke ekonomi Amerika, termasuk ke sektor teknologi dan kecerdasan buatan.
Jika konflik membuat ekspor minyak terganggu, maka aliran investasi ke Amerika juga bisa berhenti.
“Jika itu terjadi, gelembung investasi AI di Amerika bisa pecah,” katanya.
Risiko Invasi Darat ke Iran
Menurut Jiang, tekanan terhadap Amerika kemungkinan akan meningkat jika Amerika mengirim pasukan darat ke Iran, terutama jika sekutu seperti Israel dan negara-negara Teluk terus diserang.
Namun, langkah tersebut berisiko sangat besar.
Dalam sejarah modern, perubahan rezim hampir tidak pernah berhasil hanya dengan serangan udara. Pasukan darat biasanya menjadi faktor penentu, yang berarti konflik bisa berkembang jauh lebih besar.
Mengapa Perang Ini Terjadi?
Jiang mengemukakan tiga kemungkinan alasan mengapa konflik ini tetap terjadi meskipun banyak peringatan dari kalangan militer.
- Kesombongan kekuatan (hubris)
Seperti banyak imperium dalam sejarah, keberhasilan sebelumnya bisa membuat pemimpin terlalu percaya diri. - Kalkulasi politik internal
Jiang menilai perang dapat memberi keuntungan politik bagi Donald Trump, termasuk dukungan dari sekutu regional. - Tekanan geopolitik dari sekutu
Ia menyebut Israel dan Arab Saudi memiliki kepentingan besar dalam perubahan rezim di Iran.
Dunia Menuju Era Multipolar?
Jika prediksi Jiang benar, hasil perang ini bisa menjadi titik balik besar dalam geopolitik global.
Ia menilai dominasi Amerika sejak runtuhnya Uni Soviet mulai melemah dan dunia sedang bergerak menuju tatanan multipolar dengan banyak kekuatan besar.
“Ini bukan hanya tentang perang antara dua negara,” ujarnya.
“Ini tentang perubahan besar dalam sistem global.”












