Iran Tuduh Media Barat Ikut Melegitimasi Serangan Israel di Gaza

favicon progres.id
jubir kemenlu Iran
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baqaei (Foto: TasnimNews)

PROGRES.ID – Pemerintah Iran melontarkan kritik tajam terhadap media arus utama Barat yang dinilai tidak hanya bias, tetapi juga berperan dalam membenarkan serangan Israel di Jalur Gaza. Tudingan tersebut disampaikan juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei.

Dalam pernyataan yang diunggah melalui platform X, Baghaei menyinggung buku karya Adam Johnson berjudul How to Sell a Genocide. Ia menilai buku tersebut mengungkap bagaimana media Barat tidak sekadar menunjukkan keberpihakan, tetapi turut berkontribusi dalam membentuk narasi yang membenarkan kekerasan massal.

Menurut Baghaei, penggunaan bahasa yang disusun secara hati-hati, pembingkaian isu yang dinilai manipulatif, serta penguatan narasi resmi dari Israel dan Amerika Serikat telah membuat penderitaan warga sipil di Gaza tereduksi. Ia juga menuding media berlindung di balik klaim profesionalisme jurnalistik dalam menyajikan pemberitaan tersebut.

Sementara itu, situasi di Gaza terus memburuk meski sempat diumumkan gencatan senjata antara Israel dan kelompok perlawanan Palestina, Hamas, pada 11 Oktober 2025. Data terbaru menunjukkan ratusan warga masih menjadi korban tewas dan ribuan lainnya mengalami luka-luka sejak kesepakatan itu diberlakukan.

Kerusakan infrastruktur akibat serangan yang terus berlangsung juga sangat luas. Estimasi awal dari lembaga internasional menyebut biaya rekonstruksi Gaza mencapai lebih dari 70 miliar dolar AS, dengan kebutuhan mendesak puluhan miliar dolar dalam tahap awal pemulihan.

Sektor kesehatan termasuk yang paling terdampak. Fasilitas medis di wilayah tersebut mengalami kehancuran parah dan diperkirakan membutuhkan waktu bertahun-tahun serta pendanaan besar untuk kembali berfungsi secara normal.

Selain itu, ratusan ribu unit rumah dilaporkan rusak, sementara aktivitas ekonomi di Gaza mengalami kontraksi tajam. Kondisi ini mencerminkan lumpuhnya sektor produksi, lapangan kerja, dan investasi di wilayah tersebut.

Sejak konflik kembali memanas pada Oktober 2023, jumlah korban jiwa terus meningkat. Puluhan ribu warga Palestina dilaporkan tewas dan ratusan ribu lainnya terluka, dengan sebagian besar korban berasal dari kalangan perempuan dan anak-anak.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *