PROGRES.ID, GAZA – Perang di Gaza kembali memanas. Militer Israel mengonfirmasi bahwa lima tentaranya tewas dalam operasi militer di wilayah Beit Hanoon, Gaza utara, setelah pasukan Palestina meledakkan sejumlah alat peledak yang dipasang secara strategis. Dalam insiden yang sama, 14 tentara lainnya mengalami luka-luka, dua di antaranya dalam kondisi kritis.
Sementara itu, serangan balasan “gaya pencundang” Israel di Gaza semakin brutal. Sedikitnya 54 warga sipil Palestina dilaporkan tewas dalam serangan udara sejak Selasa dini hari, menambah panjang daftar korban jiwa dalam konflik yang belum menunjukkan tanda-tanda mereda.
Serangan Hamas Berhasil Lumpuhkan Tiga Gelombang Pasukan Israel
Laporan dari Amman, Yordania, yang disampaikan jurnalis Al Jazeera, Nour Odeh, mengungkapkan bahwa penyelidikan awal atas kematian tentara Israel tersebut telah dimulai. Menurutnya, pasukan Israel awalnya disergap, kemudian unit yang datang untuk menyelamatkan mereka juga menjadi sasaran, dan akhirnya tim ketiga yang mencoba mengevakuasi korban ikut diserang.
Sejak Israel melancarkan serangan ke Gaza pada Oktober 2023, total korban tewas dari militer Israel mencapai 887 tentara. Hanya dua minggu sebelumnya, Israel mencatat salah satu hari paling mematikan di Gaza dengan tujuh tentaranya tewas akibat bom yang dipasang pada kendaraan lapis baja.
Juru bicara Brigade Qassam, Abu Obeida, menegaskan bahwa serangan terbaru ini merupakan “pukulan telak” di wilayah yang selama ini dianggap aman oleh Israel. Ia memperingatkan bahwa militer Israel akan terus mengalami kerugian setiap hari selama agresi berlanjut.
Netanyahu dalam Tekanan, Desakan Gencatan Senjata Semakin Kuat
Di tengah kunjungannya ke Washington DC untuk bertemu Presiden Amerika Serikat Donald Trump, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyebut peristiwa tersebut sebagai “pagi yang berat”. Pertemuan keduanya turut membahas isu kontroversial mengenai pemindahan paksa warga Palestina dari Gaza.
Pekan lalu, Trump memprediksi bahwa negosiasi tidak langsung antara Israel dan Hamas yang dimediasi Qatar berpotensi menghasilkan kesepakatan gencatan senjata dalam waktu dekat.
Namun, eskalasi kekerasan di Gaza justru meningkatkan tekanan kepada Netanyahu untuk menerima proposal gencatan senjata selama 60 hari yang didukung AS. Survei di Israel menunjukkan mayoritas warga mendukung diakhirinya perang yang telah berlangsung 22 bulan ini.
Pemimpin oposisi Israel, Yair Lapid, menyampaikan melalui platform X (sebelumnya Twitter), “Demi para pejuang, demi keluarga mereka, demi para sandera, demi Negara Israel: perang ini harus dihentikan.”
Nour Odeh menambahkan, beberapa tokoh oposisi menilai bahwa tentara Israel tewas bukan untuk melindungi negara, melainkan untuk mempertahankan kelangsungan koalisi pemerintahan Netanyahu.
Gaza Kembali Berdarah, Warga Sipil Jadi Korban
Sementara itu, Gaza kembali menjadi saksi bisu kekejaman serangan udara Israel. Setidaknya 54 warga Palestina tewas sejak fajar menyingsing pada Selasa.
Laporan langsung dari Deir el-Balah, Gaza tengah, menyebutkan bahwa malam itu menjadi salah satu yang paling mencekam, dengan hujan bom dari jet tempur, drone, hingga helikopter menghantam kawasan pemukiman yang selama ini diklaim sebagai zona aman.
Di al-Mawasi, Khan Younis, serangan drone Israel menghantam tenda pengungsi Palestina, menewaskan sedikitnya sembilan orang. Sementara di kawasan Hakr al-Jami, Deir el-Balah, serangan udara lainnya menewaskan dua orang dan melukai beberapa lainnya.
Tak berhenti di situ, jet tempur Israel juga membombardir sebuah sekolah yang menjadi tempat pengungsian di kamp pengungsi Bureij, Gaza tengah, menewaskan sedikitnya empat orang.
Sistem Kesehatan Gaza di Ambang Kehancuran
Krisis kemanusiaan di Gaza semakin parah. Palang Merah Palestina melaporkan bahwa Klinik Medis Zeitoun di Kota Gaza terpaksa ditutup akibat tembakan artileri yang terus menghantam kawasan sekitar. Penutupan ini membuat ribuan warga sipil, termasuk anak-anak yang membutuhkan vaksinasi, harus berjalan jauh untuk mendapatkan layanan kesehatan.
Rumah Sakit Martir Al-Aqsa di Gaza tengah juga mengeluarkan peringatan pada Senin, menyatakan bahwa mereka hanya memiliki sisa bahan bakar untuk beberapa jam ke depan. Mereka mendesak komunitas internasional untuk segera menekan Israel agar membuka akses pengiriman bantuan kemanusiaan.












