PROGRES.ID – Gelombang serangan Iran ke Israel kembali menelan korban jiwa. Lebih dari 10 orang dilaporkan tewas setelah rudal menghantam wilayah Beit Shemesh pada Minggu, 1 Maret 2026. Angka korban diperkirakan masih bisa bertambah karena proses evakuasi terus dilakukan di antara puing-puing bangunan yang runtuh.
Tim penyelamat bekerja tanpa henti mencari warga yang kemungkinan masih tertimbun. Sementara itu, puluhan korban lain mengalami luka-luka, beberapa di antaranya dalam kondisi kritis dan harus menjalani perawatan intensif di rumah sakit terdekat.
Korban Terus Bertambah, Evakuasi Berlangsung Dramatis
Serangan yang menghantam kawasan permukiman tersebut memicu kepanikan warga. Ledakan keras merusak sejumlah bangunan dan kendaraan di sekitar titik jatuhnya rudal.
Petugas medis dan relawan dikerahkan untuk mempercepat proses penyelamatan. Otoritas setempat menyebutkan bahwa prioritas utama saat ini adalah mengevakuasi korban yang masih terjebak serta memastikan tidak ada ancaman susulan.
Iran Tingkatkan Serangan, Gunakan Rudal Hypersonic Fattah-2
Eskalasi konflik kian tajam setelah wafatnya Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei. Pemerintah Iran disebut meningkatkan intensitas dan daya hancur serangan balasan ke Israel.
Dalam sejumlah laporan, Iran mulai mengerahkan rudal hipersonik Fattah-2, yang diklaim memiliki kecepatan tinggi dan kemampuan manuver yang sulit dideteksi oleh sistem pertahanan udara.
Tak hanya menyasar Israel, beberapa pangkalan militer Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah juga dilaporkan menjadi target serangan.
Drone MQ-9 AS Diklaim Dihancurkan
Iran juga mengklaim berhasil menjatuhkan drone militer milik Amerika Serikat jenis MQ-9 Reaper. Momen penghancuran drone tersebut bahkan disebarluaskan melalui berbagai platform media sebagai bentuk pesan politik dan militer.
Langkah ini memperlihatkan bahwa konflik tidak lagi terbatas pada serangan rudal konvensional, tetapi telah merambah ke perang teknologi dan sistem pertahanan modern.
Koalisi AS-Israel Terus Melancarkan Serangan Balasan
Di sisi lain, koalisi Amerika Serikat dan Israel juga disebut terus menggempur sejumlah wilayah di Iran. Operasi militer tersebut bertujuan melemahkan kekuatan militer serta struktur pemerintahan Republik Islam Iran.
Namun, upaya tersebut dinilai tidak berjalan mudah. Sejumlah analis menyebut kemampuan militer Iran ternyata lebih kuat dari perkiraan awal. Sistem persenjataan dan pertahanan yang dimiliki Teheran membuat konflik berlangsung lebih panjang dan kompleks.
Timur Tengah di Ambang Konflik Lebih Luas
Serangan mematikan di Beit Shemesh menjadi salah satu insiden paling berdarah dalam eskalasi terbaru Iran-Israel. Dengan penggunaan rudal hipersonik, serangan drone, dan balasan intens dari kedua pihak, ketegangan kini berada pada titik rawan.
Dunia internasional pun terus memantau perkembangan situasi, khawatir konflik ini meluas dan menyeret lebih banyak negara ke dalam pusaran perang terbuka di Timur Tengah.












