PROGRES.ID – Departemen Pertahanan Amerika Serikat atau Pentagon dikabarkan mulai menjajaki kerja sama dengan industri otomotif untuk meningkatkan produksi amunisi dan perlengkapan militer.
Langkah ini muncul di tengah tekanan besar terhadap stok persenjataan AS akibat keterlibatan dalam konflik di Ukraina serta perang dengan Iran.
Mengutip laporan The Wall Street Journal, pejabat tinggi pertahanan AS telah melakukan pembicaraan dengan sejumlah pimpinan perusahaan besar. Di antaranya CEO General Motors, Mary Barra, serta CEO Ford Motor Company, Jim Farley.
Selain itu, perusahaan seperti GE Aerospace dan Oshkosh Corporation juga dilibatkan dalam diskusi terkait dukungan terhadap industri pertahanan.
Pejabat Pentagon menyebut, perusahaan-perusahaan tersebut berpotensi membantu memperkuat kapasitas produksi yang selama ini bertumpu pada kontraktor pertahanan tradisional.
“Departemen Pertahanan berkomitmen untuk memperluas basis industri pertahanan dengan memanfaatkan teknologi dan solusi komersial,” ujar seorang pejabat.
Kebutuhan untuk meningkatkan produksi senjata kini dipandang sebagai isu strategis yang menyangkut keamanan nasional. Tekanan dari konflik yang berlangsung membuat militer AS membutuhkan tambahan pasokan amunisi dan senjata taktis dalam waktu cepat.
Dalam pertemuan dengan para eksekutif industri, pejabat pertahanan juga meminta masukan terkait berbagai kendala produksi, mulai dari aturan kontrak hingga proses pengadaan.
Kekhawatiran terhadap kapasitas industri pertahanan meningkat sejak AS mengirimkan sejumlah besar persenjataan ke Ukraina pasca invasi Rusia pada 2022.
Situasi semakin diperburuk oleh konflik dengan Iran yang berlangsung sekitar enam pekan terakhir. Dalam periode tersebut, sejumlah aset militer bernilai miliaran dolar dilaporkan rusak akibat serangan balasan Iran yang melibatkan rudal balistik dan drone.
Kerugian yang ditimbulkan tidak kecil. Dalam tiga pekan pertama konflik, total kerusakan diperkirakan mencapai 1,4 miliar hingga 2,9 miliar dolar AS, atau setara puluhan triliun rupiah.
Kondisi ini mendorong Pentagon untuk mencari solusi cepat untuk menjaga kesiapan militer, termasuk dengan menggandeng sektor industri nonmiliter guna mempercepat produksi dan pengisian kembali stok persenjataan.












