PROGRES.ID – Ketegangan perang Iran vs Israel-Amerika Serikat semakin memanas. Pada Selasa malam (03/03/2026), pusat Kota Tel Aviv dilaporkan kembali digempur rudal berdaya ledak tinggi, sementara sirene peringatan terus meraung di Beersheba dan sejumlah wilayah selatan Israel.
Serangan terbaru ini dikabarkan menembus sistem pertahanan udara Israel, memicu kepanikan warga dan kerusakan di sejumlah titik strategis ibu kota ekonomi negara tersebut.
IRGC Klaim Serang Target AS di Laut Lepas
Dalam pernyataan resminya, Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) menyebut operasi tidak hanya menyasar wilayah Israel.
Angkatan Laut IRGC mengklaim telah meluncurkan rudal ke target militer Amerika Serikat yang berada sekitar 600–650 kilometer dari wilayah Iran, tepatnya di kawasan Samudra Hindia.
“Kami menyerang kapal perusak AS yang sedang melakukan pengisian bahan bakar dari kapal suplai militer di lepas pantai Iran,” demikian pernyataan yang dirilis pihak IRGC.
Jika klaim ini terkonfirmasi, maka serangan tersebut menandai eskalasi besar karena menyasar langsung aset Angkatan Laut AS di perairan internasional.
Tel Aviv dan Selatan Israel Jadi Sasaran Utama
Di daratan, rentetan rudal balistik kembali diarahkan ke Tel Aviv. Beberapa laporan menyebut daya hancur serangan kali ini lebih besar dibandingkan dengan gelombang sebelumnya.
Beersheba, kota di selatan Israel, juga terus dibayangi suara sirene peringatan serangan udara. Warga berlarian menuju bunker perlindungan saat sistem pertahanan udara berupaya mencegat proyektil yang datang bertubi-tubi.
Namun, sejumlah rudal dilaporkan lolos dari intersepsi.
Stok Rudal AS Disebut Menipis
Memasuki Rabu (4/3/2026), aksi saling serang antara Iran dan koalisi Amerika Serikat-Israel masih berlangsung tanpa tanda mereda.
Di tengah intensitas konflik yang tinggi, muncul laporan bahwa persediaan rudal pencegat Amerika Serikat mulai menipis. Di sisi lain, Iran dinilai masih mampu mempertahankan ritme serangan, bahkan meningkatkan skala dan jangkauan operasinya.
Beberapa pengamat menyebut dinamika ini berpotensi mengubah keseimbangan militer di kawasan Timur Tengah jika perang terus berlarut-larut.
Eskalasi Menuju Konflik Lebih Luas?
Serangan ke pusat Tel Aviv dan klaim penargetan kapal perang AS di Samudra Hindia memperlihatkan bahwa konflik kini tidak lagi terbatas pada satu front.
Dengan rudal yang melintas ratusan kilometer dan sasaran yang meluas hingga ke laut lepas, perang ini berisiko berkembang menjadi krisis regional berskala besar.
Pertanyaannya kini: apakah kedua pihak akan menahan diri, atau justru membawa Timur Tengah ke babak perang yang jauh lebih destruktif?












