PROGRES.ID – Presiden Amerika Serikat Donald Trump dilaporkan menolak rencana pengiriman pasukan untuk merebut Pulau Kharg milik Iran, meskipun operasi tersebut dinilai berpotensi berhasil. Keputusan itu diambil karena kekhawatiran tingginya risiko korban, dengan Trump menilai pasukan AS akan menjadi “sasaran empuk” bagi militer Iran.
Laporan The Wall Street Journal pada Minggu menyebutkan sikap Trump mengeras setelah Iran menembak jatuh jet tempur F-15 di wilayah udaranya, yang menyebabkan awak pesawat tersebut terdampar. Mendapat laporan soal pesawat yang jatuh dan dua awak yang hilang, Trump disebut meluapkan kemarahan kepada para stafnya selama berjam-jam, sembari berulang kali mengeluhkan minimnya dukungan dari negara-negara Eropa.
Dalam kesempatan itu, Trump juga menyinggung Iran hostage crisis sebagai peringatan. Ia merujuk pada pengalaman mantan Presiden AS Jimmy Carter, yang dinilai kehilangan peluang terpilih kembali akibat krisis tersebut.
Pada 1980, Carter sempat memerintahkan operasi militer untuk menyelamatkan warga AS yang disandera di Iran. Namun, misi itu berakhir gagal setelah sebagian besar pesawat yang membawa pasukan hancur akibat cuaca ekstrem di wilayah tengah Iran, sehingga operasi terpaksa dibatalkan.
Sumber yang dikutip menyebutkan Trump sebenarnya mendorong tindakan cepat, tetapi menghadapi kendala logistik karena militer AS tidak memiliki pengalaman operasi darat di Iran sejak 1979. Bahkan, sejumlah pejabat senior memilih membatasi akses Trump terhadap pembaruan situasi secara rinci, dan hanya memberikan laporan pada momen-momen penting, dengan alasan sifatnya yang tidak sabar dapat mengganggu pengambilan keputusan.
Seiring berjalannya waktu, muncul indikasi bahwa operasi tersebut tidak berkaitan dengan upaya penyelamatan pilot F-15 seperti yang sempat disampaikan pejabat AS. Sejumlah temuan yang dikonfirmasi oleh Press TV menyebutkan tujuan sebenarnya adalah menyusup dan menyerang fasilitas nuklir Iran di Isfahan, yang pada akhirnya gagal.
Ketegangan antara AS dan Iran disebut meningkat sejak serangan udara pada 28 Februari yang menargetkan pejabat tinggi dan komandan militer Iran, termasuk Pemimpin Revolusi Islam Ayatollah Seyyed Ali Khamenei.
Sebagai respons, militer Iran melancarkan serangan rudal dan drone secara rutin ke sejumlah target di wilayah pendudukan Israel serta pangkalan dan aset militer AS di kawasan tersebut. Iran juga mengambil langkah balasan dengan menutup Selat Hormuz, yang berdampak pada lonjakan harga minyak dunia.
Pada 8 April, Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran mengumumkan adanya kesepakatan gencatan senjata sementara yang dimediasi Pakistan, setelah AS menyetujui proposal 10 poin yang diajukan Teheran.
Delegasi Iran yang dipimpin Ketua Parlemen Mohammad Baqer Qalibaf melakukan perundingan dengan delegasi AS yang dipimpin Wakil Presiden JD Vance. Namun, setelah 21 jam pembahasan intensif, negosiasi tersebut berakhir tanpa kesepakatan final, dengan Iran menilai tuntutan pihak AS terlalu berlebihan.












