PROGRES.ID – Ketegangan perang antara Iran dan Amerika Serikat bersama sekutunya terus meningkat setelah Teheran secara terbuka menolak tawaran gencatan senjata yang disebut datang dari Washington. Penolakan itu disampaikan langsung oleh Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, dalam wawancara televisi Amerika yang disaksikan jutaan orang.
Dalam wawancara di program televisi populer Meet the Press milik NBC News, Araghchi dengan tegas menyatakan bahwa Iran tidak akan menerima gencatan senjata sementara. Ia menyebut pengalaman masa lalu membuat Teheran tidak lagi mempercayai tawaran penghentian sementara pertempuran.
“Sekarang Anda ingin meminta gencatan senjata lagi. Ini tidak bekerja seperti itu,” kata Araghchi.
Pernyataan tersebut langsung memicu perdebatan luas di kalangan analis militer dan pengamat geopolitik mengenai arah konflik yang telah berlangsung lebih dari 10 hari sejak dimulainya operasi militer Amerika.
Operasi Militer AS Dinilai Gagal Capai Target

Konflik terbaru dimulai pada 28 Februari 2026 ketika Amerika Serikat meluncurkan operasi militer yang disebut Operation Epic Fury terhadap Iran.
Operasi tersebut awalnya diklaim akan berlangsung cepat dan menentukan. Target utamanya adalah melemahkan kepemimpinan Iran serta memicu perubahan politik di dalam negeri.
Namun, setelah lebih dari satu pekan pertempuran, banyak target strategis yang belum tercapai. Pemerintahan Iran tetap berdiri dan bahkan menunjukkan tanda-tanda konsolidasi kekuatan politik.
Situasi ini semakin diperumit oleh respons militer Iran yang cukup masif. Dalam 10 hari pertama konflik, Iran dilaporkan meluncurkan sekitar 500 rudal balistik dan lebih dari 2.000 drone ke berbagai target militer Amerika dan sekutunya di kawasan Timur Tengah.
Serangan tersebut menargetkan puluhan instalasi militer sekaligus, termasuk pangkalan di negara-negara Teluk.
Dampak Militer dan Ekonomi Mulai Terasa
Beberapa laporan menyebutkan sistem pertahanan udara Amerika mengalami tekanan besar akibat intensitas serangan tersebut. Bahkan, sebuah radar sistem pertahanan THAAD dilaporkan hancur dalam serangan di wilayah Qatar.
Selain kerugian peralatan militer, konflik juga menimbulkan korban di pihak Amerika. Setidaknya tujuh tentara dilaporkan tewas dalam serangan tersebut.
Di sisi lain, dampak ekonomi mulai terasa secara global. Harga minyak dunia melonjak tajam karena ketidakpastian di jalur energi utama dunia, yaitu Strait of Hormuz.
Selat strategis ini merupakan jalur yang dilalui sekitar 20 persen perdagangan minyak global. Saat ini banyak perusahaan pelayaran menolak melintasi jalur tersebut karena risiko keamanan yang tinggi.
Akibatnya, sejumlah perusahaan asuransi maritim, termasuk yang berbasis di Lloyd’s of London, dilaporkan enggan memberikan perlindungan terhadap kapal yang melintas di wilayah tersebut.
Iran Angkat Pemimpin Baru
Meski mendapat tekanan militer, Iran justru menunjukkan stabilitas politik yang relatif kuat. Setelah pemimpin tertinggi sebelumnya dilaporkan tewas, Iran segera menunjuk pemimpin baru, yakni Mojtaba Khamenei.
Ia merupakan putra dari pemimpin sebelumnya dan langsung menyatakan akan melanjutkan kebijakan serta strategi yang telah dijalankan sebelumnya.
Langkah cepat ini dinilai sejumlah analis sebagai bukti bahwa struktur kekuasaan Iran masih solid meskipun berada di bawah tekanan militer.
Iran Siap Perang Panjang
Korps Garda Revolusi Iran atau Islamic Revolutionary Guard Corps dilaporkan menyatakan kesiapan untuk menghadapi konflik berkepanjangan.
Menurut beberapa analis, Iran sengaja memperlambat laju serangan setelah gelombang awal. Strategi ini disebut bertujuan menghemat persenjataan untuk perang jangka panjang, bukan sekadar kemenangan cepat.
Mantan inspektur senjata PBB dan analis militer Amerika, Scott Ritter, bahkan menilai strategi tersebut memberi keuntungan bagi Iran.
Menurutnya, Iran tidak harus memenangkan perang secara militer untuk mencapai tujuan strategis. Cukup dengan bertahan dan mempertahankan stabilitas domestik, tekanan politik dan ekonomi pada pihak lawan akan meningkat seiring waktu.
Rusia dan China Ikut Mengamati
Perkembangan konflik juga menarik perhatian kekuatan besar lainnya. Russia dilaporkan memberikan dukungan intelijen kepada Iran, termasuk informasi mengenai posisi kapal perang Amerika di kawasan.
Sementara itu, China memperingatkan bahwa eskalasi konflik berpotensi memicu krisis global yang lebih luas.
Negara-negara Eropa juga mulai merasakan dampaknya. Harga gas alam di kawasan tersebut melonjak lebih dari 20 persen setelah ekspor LNG dari Qatar terganggu akibat situasi keamanan.
Risiko Krisis Global Semakin Besar
Banyak analis menilai konflik ini tidak lagi sekadar pertempuran militer biasa. Dampaknya kini meluas ke stabilitas ekonomi global.
Jika jalur energi utama di Selat Hormuz tetap terganggu, harga minyak dunia diperkirakan bisa melonjak hingga 150 dolar per barel dalam beberapa minggu ke depan.
Situasi tersebut berpotensi memicu krisis energi global, meningkatkan inflasi, serta memperburuk kondisi ekonomi di banyak negara.
Hingga kini, kedua pihak masih mempertahankan posisi masing-masing. Amerika menginginkan penghentian pertempuran sementara, sementara Iran menuntut jaminan permanen bahwa serangan tidak akan terjadi lagi.
Dengan posisi yang masih jauh berbeda, upaya diplomasi untuk menghentikan konflik tampaknya akan menghadapi jalan panjang.
Sementara itu, pertempuran masih terus berlangsung, rudal dan drone tetap diluncurkan, dan dunia menunggu apakah konflik ini akan mereda atau justru berkembang menjadi krisis global yang lebih besar.












