PROGRES.ID – Presiden Ukraina, Volodymyr Zelensky, menyampaikan kekecewaannya terhadap perubahan prioritas Amerika Serikat yang dinilai mulai mengalihkan perhatian dari konflik di negaranya.
Dalam wawancara dengan stasiun televisi Jerman ZDF, Zelensky menilai fokus Washington kini lebih tertuju pada konflik dengan Iran. Kondisi tersebut, menurutnya, berdampak langsung pada upaya diplomasi terkait perang Ukraina.
“Mereka tidak punya waktu untuk Ukraina karena perang di Iran,” ujarnya, seperti dikutip AFP, Rabu (15/4/2026).
Selain aspek diplomasi, Zelensky juga menyoroti terganggunya aliran bantuan militer dari AS. Ia menyebut sejumlah tokoh seperti Steve Witkoff dan Jared Kushner yang sebelumnya terlibat dalam negosiasi dengan Rusia, kini lebih fokus pada pembicaraan terkait Iran.
Zelensky memperingatkan bahwa pendekatan lunak terhadap Rusia dapat memperburuk situasi keamanan. Ia menilai tanpa tekanan yang kuat, Moskwa tidak akan merasa terancam.
“Jika tidak ada tekanan nyata terhadap (Vladimir Putin), maka mereka tidak akan takut,” tegasnya.
Perundingan damai antara Ukraina dan Rusia yang dimediasi AS sendiri dilaporkan terhenti sejak pecahnya konflik Iran pada akhir Februari. Sejak pertemuan terakhir di Jenewa, kedua pihak belum kembali duduk bersama.
Di sisi lain, Zelensky menilai keterlambatan pengiriman senjata menjadi persoalan krusial. Ia menyebut ketersediaan sistem pertahanan udara, khususnya rudal pencegat seperti PAC-3 dan PAC-2, semakin terbatas.
Menurutnya, jika konflik terus berlarut, pasokan senjata untuk Ukraina berpotensi semakin menipis, yang dapat berdampak besar terhadap kemampuan pertahanan negaranya.
Pernyataan tersebut disampaikan Zelensky saat kunjungan ke Norwegia, di mana ia bertemu dengan Perdana Menteri Jonas Gahr Store. Kedua negara sepakat memperkuat kerja sama di bidang pertahanan, termasuk rencana produksi drone Ukraina di Norwegia.
Sebelumnya, Zelensky juga melakukan kunjungan ke Jerman dan bertemu Kanselir Friedrich Merz untuk membahas kelanjutan dukungan terhadap Ukraina yang kini telah memasuki tahun kelima konflik dengan Rusia.
Perkembangan ini mencerminkan tantangan baru bagi Kyiv, di tengah pergeseran fokus geopolitik global yang semakin kompleks.










