PROGRES.ID – Memasuki hari kelima setelah banjir besar melanda sejumlah wilayah di Aceh, jaringan telekomunikasi masih belum pulih sepenuhnya. Beberapa daerah mulai mendapatkan kembali akses seluler, namun kualitas jaringan sangat terbatas dan kerap terputus. Sementara itu, wilayah Kota Langsa, Aceh Tamiang, Bener Meriah, dan Aceh Tengah masih mengalami pemadaman total layanan komunikasi.
Kondisi tersebut membuat banyak warga tidak bisa terhubung dengan keluarga mereka. Situasi ini memicu kekhawatiran mendalam, terutama bagi warga Aceh yang berada di Banda Aceh dan luar daerah banjir.
“Saya terakhir berkomunikasi dengan orang tua di Langsa pada Selasa (25 November) pagi. Setelah itu tak bisa terhubung lagi, dan saya tidak tahu kondisi mereka sekarang,” ujar Tata Muda Taqwa, warga Langsa yang berdomisili di Banda Aceh.
Kondisi serupa dialami Ulfa, seorang mahasiswa di Banda Aceh yang keluarganya tinggal di Paya Bujok, Langsa. Sejak banjir terjadi, ia belum bisa menghubungi orang tuanya sedikit pun.
“Telepon sampai sekarang tidak masuk,” ucap Ulfa sambil menangis saat mengantar bantuan di posko mahasiswa depan Gedung DPRA. Ia menyebut wilayah tempat tinggal keluarganya gelap gulita tanpa listrik dan tidak memiliki sinyal seluler.
Di sisi lain, Rahmat Taufik, warga Aceh Utara yang menetap di Banda Aceh, sudah beberapa hari mencoba mencari informasi tentang kampung halamannya di Kecamatan Sawang. Ia baru mengetahui kondisi daerahnya dari video yang beredar di media sosial, namun belum mengetahui keadaan keluarganya sendiri.
Karena tak kunjung mendapat kabar, Rahmat memutuskan untuk kembali ke kampungnya meski akses jalan banyak yang terputus. “Saya coba jalan terus saja. Kalau aksesnya putus di tengah jalan, kita cari cara lain,” ujarnya.
Wawan Irawan juga menghadapi situasi serupa. Upayanya menghubungi kerabat di Takengon, Aceh Tengah, belum membuahkan hasil. Ia mendengar rumah kerabatnya terdampak banjir dan longsor, tetapi belum mengetahui kondisi mereka akibat putusnya jaringan telepon.
Sejumlah warga menilai pemulihan jaringan telekomunikasi berjalan lambat. Padahal, akses komunikasi sangat penting untuk memastikan keselamatan keluarga, koordinasi bantuan, serta proses evakuasi.
Dedi Saputra, salah seorang warga, mengeluhkan lambannya perbaikan jaringan meski kondisi darurat sudah berlangsung selama lima hari. “Seperti tidak ada solusi dari provider. Walaupun listrik padam, seharusnya bisa dicari alternatif lain,” katanya.
Hal senada disampaikan Reza, warga Banda Aceh, yang merasa kualitas layanan telekomunikasi tetap buruk meski ibu kota provinsi tidak terdampak banjir. “Banda Aceh tidak banjir, listrik hanya padam bergiliran, tapi sinyal HP tetap tidak stabil. Internet juga begitu,” ujarnya.
***












