PROGRES.ID – Perang di Iran mulai memberikan dampak tidak langsung terhadap industri otomotif global, khususnya pasar kendaraan listrik. Thedrive.com menulis bahwa produsen mobil listrik asal China, BYD, justru mencatat lonjakan ekspor signifikan di tengah penurunan penjualan di pasar domestik.
Data terbaru menunjukkan BYD mengalami penurunan penjualan selama delapan bulan berturut-turut di dalam negeri. Pada April 2026, pengiriman kendaraan tercatat turun sekitar 16 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Namun, kondisi berbeda terlihat di pasar internasional. Kenaikan harga minyak akibat konflik di Iran mendorong konsumen global beralih ke kendaraan listrik yang dinilai lebih efisien. Situasi ini membuat ekspor BYD melonjak hingga 71 persen dalam satu bulan terakhir.
Di sisi lain, produsen otomotif Korea Selatan seperti Hyundai dan Kia juga mengalami perlambatan penjualan pada April. Masing-masing mencatat penurunan 1,7 persen dan 2,8 persen, meski secara kumulatif penjualan tahunan masih menunjukkan pertumbuhan.
Sementara itu, tiga raksasa otomotif Amerika Serikat—Ford, General Motors, dan Stellantis—diperkirakan akan menerima pengembalian tarif impor lebih dari 2,3 miliar dolar AS dari pemerintah federal. Ford disebut berpotensi memperoleh sekitar 1,3 miliar dolar, sementara dua lainnya masing-masing sekitar 500 juta dolar.
Di tengah dinamika industri, Ford juga mengumumkan penarikan kembali sekitar 180.000 unit kendaraan model Ford Bronco dan Ford Ranger produksi 2024–2026. Penarikan ini terkait potensi baut pengatur tinggi kursi depan yang dapat longgar dan membahayakan pengemudi.
Perkembangan lain datang dari Rivian yang memangkas kapasitas rencana pabrik barunya di Georgia dari 400.000 unit menjadi 300.000 unit per tahun. Keputusan ini diambil setelah adanya pengurangan pinjaman federal sebesar 2 miliar dolar AS.
Produsen Jepang, Nissan, juga mengubah strategi produksinya di pabrik Canton, Mississippi. Rencana produksi dua model mobil listrik dibatalkan dan fasilitas tersebut kini akan difokuskan untuk kendaraan SUV berbasis rangka, termasuk generasi terbaru Xterra.
Di Eropa, Stellantis menegaskan kerja samanya dengan produsen kendaraan listrik China, Leapmotor, tidak akan mengganggu penjualan merek internal seperti Opel, Peugeot, dan Vauxhall.
Sementara itu, dari dunia motorsport, mobil sport Corvette ZR1X dijadwalkan menjadi pace car dalam ajang Indy 500 tahun ini. Selain itu, Bugatti juga memperkenalkan varian unik W16 Mistral dengan desain polkadot yang dinamai “Fly Bug”.
Dengan berbagai dinamika tersebut, industri otomotif global menunjukkan bagaimana faktor geopolitik seperti konflik di Timur Tengah dapat memengaruhi arah pasar, terutama dalam percepatan adopsi kendaraan listrik di berbagai negara.












