Iran dan AS Bersiap Tanda Tangani Nota Kesepahaman, Teheran Tetap Waspada: Kami Bernegosiasi Tanpa Kepercayaan

Penulis: Tim Progres.id
Editor: Mukhtar Amin
abbas aragchi
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi (Foto: TasnimNews)

PROGRES.ID – Pemerintah Iran mengonfirmasi bahwa proses diplomasi dengan Amerika Serikat memasuki tahap baru dengan rencana penandatanganan nota kesepahaman (MoU) pada Jumat mendatang. Meski demikian, Teheran menegaskan seluruh strategi negosiasi disusun berdasarkan pengalaman panjang menghadapi pelanggaran komitmen yang dilakukan Washington di masa lalu.

Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, mengatakan negaranya tetap berhati-hati dalam setiap langkah perundingan dengan Amerika Serikat dan tidak menaruh harapan berlebihan terhadap hasil yang akan dicapai.

“Kami merancang jalur negosiasi dan pelaksanaan kesepakatan berdasarkan prinsip ketidakpercayaan, karena Amerika Serikat sebelumnya telah berulang kali gagal memenuhi komitmennya,” ujar Araghchi.

Menurutnya, nota kesepahaman yang menjadi dasar perundingan telah diselesaikan. Sebagian ketentuannya mulai diterapkan pada hari ini, sementara poin-poin lainnya akan dijalankan setelah dokumen tersebut resmi ditandatangani pada Jumat.

Araghchi menjelaskan bahwa proses kesepakatan akan berlangsung dalam dua tahap. Tahap pertama berupa implementasi nota kesepahaman yang telah disepakati kedua pihak. Setelah itu, Iran dan Amerika Serikat akan memasuki putaran negosiasi yang direncanakan berlangsung selama 60 hari dan dapat diperpanjang apabila diperlukan.

Dalam tahap perundingan lanjutan tersebut, kedua negara akan membahas isu-isu yang selama ini menjadi sumber ketegangan, termasuk program nuklir Iran dan kemungkinan pencabutan sanksi ekonomi yang diberlakukan terhadap Teheran.

Ia mengungkapkan bahwa masih terdapat peluang bagi kedua pihak untuk mencapai kesepakatan final terkait dua isu utama tersebut.

Selain itu, Araghchi menyebut kemungkinan akan digelarnya pertemuan langsung antara ketua delegasi Iran dan Amerika Serikat di Swiss pada Jumat, bertepatan dengan agenda penandatanganan nota kesepahaman.

Meski membuka ruang dialog, Iran tetap mengingat sejarah hubungan yang penuh ketegangan dengan Washington. Pemerintah Iran menilai rekam jejak Amerika Serikat dalam membatalkan komitmen dan melanggar perjanjian internasional menjadi faktor yang tidak bisa diabaikan.

“Program negosiasi kami dan implementasi setiap kesepahaman dibangun berdasarkan pengalaman menghadapi pelanggaran yang dilakukan pihak lain,” kata Araghchi.

Di sisi lain, Teheran berharap jalur diplomasi ini dapat membuka peluang ekonomi yang lebih luas bagi negara tersebut. Pemerintah Iran berupaya memanfaatkan setiap kesempatan yang tersedia untuk mengurangi tekanan ekonomi akibat sanksi internasional.

“Kami berusaha semaksimal mungkin menciptakan keterbukaan ekonomi yang lebih besar bagi negara. Tentu kami tidak akan melewatkan peluang apa pun, tetapi pada saat yang sama kami juga tidak menggantungkan harapan sepenuhnya pada proses ini,” tegasnya.

Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa Iran tetap memilih pendekatan realistis dalam menghadapi pembicaraan dengan Amerika Serikat. Di satu sisi, Teheran membuka pintu dialog demi peluang ekonomi dan penyelesaian sengketa nuklir, namun di sisi lain tetap menjaga kewaspadaan terhadap kemungkinan kegagalan implementasi kesepakatan di masa depan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *