PROGRES.ID – Menteri Luar Negeri Iran Seyed Abbas Araghchi memperingatkan Amerika Serikat (AS) dan Israel agar tidak kembali menyerang negaranya. Menurut dia, upaya “menuntaskan pekerjaan” terhadap Iran di masa lalu justru membuat Iran lebih kuat.

Peringatan itu disampaikan Araghchi lewat unggahan di platform X pada Minggu. “Terakhir kali kalian ingin ‘menuntaskan pekerjaan’, Iran justru keluar lebih kuat. Mau coba peruntungan lagi? Silakan. Tapi hati-hati, kami juga punya pekerjaan yang belum selesai,” tulisnya.

Tuding Netanyahu

Dalam unggahan yang sama, Araghchi menuding Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mendorong AS ke perang baru demi menghindari jerat hukum. Menurutnya, Netanyahu melakukannya tanpa memedulikan konsekuensi bagi Israel, apalagi bagi Presiden AS.

Pernyataan ini muncul di tengah tekanan hukum dan politik yang dihadapi Netanyahu di dalam negeri. Mahkamah Pidana Internasional (ICC) sebelumnya menerbitkan surat perintah penangkapan terhadapnya atas dugaan kejahatan perang dan kejahatan terhadap kemanusiaan, tuduhan yang dibantah Israel.

Sebelumnya, Araghchi juga pernah melontarkan kritik keras terhadap Netanyahu. Ia menyebutnya “penjudi” yang rela mengorbankan nyawa dan sumber daya warga Amerika demi mempertahankan posisinya.

Klaim Iran soal konflik sebelumnya

Pemerintah Iran menyatakan serangan AS dan Israel pada konflik sebelumnya, termasuk perang 12 hari dan perang berskala lebih besar sesudahnya, gagal mencapai tujuan yang dinyatakan. Tujuan itu, menurut Teheran, meliputi menggulingkan pemerintahan, melumpuhkan kemampuan pertahanan Iran, dan memecah belah negara tersebut.

Iran mengklaim pihaknya membalas lewat operasi bergelombang bertajuk True Promise, dengan sasaran target strategis di wilayah yang diduduki Israel serta aset militer AS di kawasan. Pernyataan ini berasal dari pihak Iran dan belum diverifikasi secara independen dalam laporan ini.

Sikap Teheran

Pernyataan Araghchi menegaskan posisi Iran bahwa bermusuhan dengan rakyat Iran adalah “taruhan yang bodoh”. Iran menyatakan tidak memulai konflik-konflik tersebut dan tidak menginginkan pertumpahan darah berkepanjangan, tetapi siap membalas dengan tegas jika diserang lagi.

Araghchi dalam pernyataan terdahulu juga menilai Israel hanya berkepentingan pada perang yang terus berlanjut. Teheran, sebaliknya, menyatakan akan tetap menempuh jalur kemandirian dan kekuatan nasional di bawah arahan kepemimpinannya.