PROGRES.ID, PARIS – Demonstrasi nasional soal naiknya biaya hidup dan buruknya kondisi sekolah di Prancis berubah menjadi bentrokan dan penjarahan pada akhir pekan. Kerusuhan terparah terjadi di Paris. U.S. News & World Report menulis bahwa Presiden Emmanuel Macron berjanji menindak mereka yang merusak dan menjarah, sementara jumlah orang yang ditangkap terus bertambah.
Aksi damai yang ditunggangi kekerasan
Menurut kepolisian Paris, aksi pada Sabtu (17/10/2026) diikuti sekitar 110.000 orang di ibu kota. Polisi menyebut kelompok beranggotakan ratusan hingga lebih dari seribu orang membentuk pawai tanpa izin di pusat kota. Menurut mereka, pada sore hari muncul fase baru ketika banyak orang datang semata-mata untuk mencuri dan menjarah.
CNN melaporkan kelompok anak muda keluar dari rute pawai resmi, menuju Champs-Élysées dan jalan-jalan di sekitar Place de la République, tempat bentrokan dengan polisi pecah. Polisi menembakkan gas air mata di kawasan itu.
Angka penangkapan dan korban
Angka resmi terus berubah:
- Kepolisian Paris melaporkan 855 orang ditangkap di wilayah ibu kota, dengan 13 polisi dan gendarmerie serta dua petugas pemadam kebakaran terluka.
- Perdana Menteri Sébastien Lecornu menyebut sekitar 1.200 orang ditangkap dan lebih dari 150 polisi terluka.
- Data terbaru AP mencatat sedikitnya 1.800 orang ditangkap secara nasional.
Seorang demonstran meninggal di utara Paris. BFMTV, mengutip kepolisian Paris, melaporkan penyebabnya henti jantung-pernapasan. France 24 melaporkan Paris membuka penyelidikan atas kematian tersebut.
Penjarahan meluas ke kota lain
Menteri Dalam Negeri Laurent Nuñez menyebut ratusan usaha dijarah di sejumlah kota, termasuk Paris, Marseille, Lyon, dan Bordeaux. Foto-foto dari Paris memperlihatkan etalase pecah dan mobil terbakar. Pada Minggu malam, France 24 melaporkan penjarahan kembali terjadi di dekat Châtelet–Les Halles setelah bentrokan di Place de la République.
Respons Macron dan pemerintah
Dalam pidato kepada bangsa pada Minggu, Macron menyuarakan “kemarahan” dan “rasa malu” publik atas kerusuhan dan penjarahan itu. Ia juga berjanji akan ada “transparansi penuh” soal respons kepolisian.
Pemerintah mengaitkan sebagian kerusuhan dengan kepentingan politik. Macron mengakui keluhan para pelajar sah, tetapi menuduh pihak tertentu memanfaatkannya untuk tujuan politik. Lecornu lebih lugas dan menyebut gerakan pelajar diinstrumentalisasi sekutu partai France Unbowed (LFI) demi kepentingan elektoral.
Pemimpin sayap kiri Jean-Luc Mélenchon menolak tudingan itu. Ia menuduh Lecornu “bermain api” dan menegaskan bahwa pihak yang berjuang bersama gerakan ini tidak punya urusan dengan penjarahan atau perusakan.
Latar belakang
Aksi akhir pekan ini menjadi puncak protes yang sudah berlangsung beberapa pekan. Menurut Fox News, Lecornu menyampaikan kepada parlemen bahwa 937 polisi dan 149 guru serta staf sekolah terluka sejak protes dimulai, sementara Kementerian Kehakiman mencatat hampir 8.000 orang ditangkap. CBC memuat laporan tentang seorang remaja 15 tahun yang kehilangan tangan dalam protes pelajar. Angka-angka itu belum bisa saya bandingkan dengan sumber resmi lain.
AP mencatat bahwa jumlah penangkapan akhir pekan ini mendekati hampir 2.000 penangkapan dalam sehari saat protes rompi kuning Desember 2018.
Reaksi internasional
Presiden AS Donald Trump menulis di Truth Social bahwa “Prancis sedang terbakar” dan mengaitkan kerusuhan dengan imigrasi, sebuah kaitan yang diperdebatkan.

Komentar