PROGRES.ID — Pakar hubungan internasional John Mearsheimer menilai strategi militer dan ekonomi Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump terhadap Iran berisiko gagal mencapai tujuan Washington. Dalam analisisnya, Mearsheimer menyoroti keterbatasan kekuatan militer AS, persoalan pasokan amunisi, sulitnya melakukan invasi darat, serta potensi eskalasi yang dapat mengguncang perekonomian dunia.

Pandangan tersebut disampaikan Mearsheimer dalam video YouTube berjudul “TRUMP JUST DOOMED THE U.S. MILITARY — Iran War Will END America”. Ia mempertanyakan keyakinan bahwa tambahan kapal induk, pengerahan pasukan, dan tekanan ekonomi akan cukup untuk memaksa Teheran menyerah.

Menurut Mearsheimer, narasi bahwa AS dapat segera menundukkan Iran melalui serangan udara maupun operasi darat tidak didukung oleh perhitungan strategis yang meyakinkan.

Mearsheimer Ragukan Efektivitas Serangan Udara AS

Salah satu poin utama yang disoroti Mearsheimer adalah rencana peningkatan kekuatan militer AS di kawasan Timur Tengah. Dalam skenario yang dibahasnya, Washington disebut berupaya menambah kapal induk dan sekitar 10.000 personel militer, di tengah keberadaan sekitar 50.000 personel AS yang telah berada di kawasan tersebut.

Namun, Mearsheimer mempertanyakan apakah penambahan kekuatan itu benar-benar akan mengubah keseimbangan militer secara signifikan.

Ia merujuk pada kampanye pengeboman strategis selama 40 hari, yang menurut pemaparannya berlangsung pada 28 Februari hingga 8 April. Jika operasi tersebut tidak berhasil memaksa Iran menyerah, ia mempertanyakan alasan serangan udara berikutnya akan memberikan hasil berbeda.

Persoalan lain adalah keterbatasan persediaan amunisi AS. Mearsheimer menilai kekurangan amunisi menjadi kendala penting bagi Washington untuk mempertahankan operasi militer berskala besar dalam jangka panjang.

Dengan kondisi tersebut, pengerahan tambahan kapal induk belum tentu cukup untuk menghasilkan kemenangan strategis. Menurutnya, kemampuan melakukan serangan tidak otomatis berarti sebuah negara mampu memaksa lawannya menyerah.

Kehadiran Tiga Kapal Induk Dipertanyakan

Mearsheimer juga menyoroti klaim bahwa AS berpotensi mengerahkan tiga kapal induk untuk memperkuat serangan terhadap Iran.

Dalam analisisnya, ia berpendapat bahwa kedatangan USS Theodore Roosevelt justru dimaksudkan untuk menggantikan kapal induk USS George Washington, bukan sekadar menambah kekuatan yang sudah tersedia. Ia juga menyebut USS George H. W. Bush telah meninggalkan kawasan tersebut dan berada di Thailand.

Atas dasar itu, Mearsheimer meragukan anggapan bahwa AS akan dengan mudah mempertahankan tiga kapal induk sekaligus di kawasan Timur Tengah.

Menurutnya, tingginya tempo operasi Angkatan Laut AS selama berbulan-bulan telah membebani kemampuan operasional armada. Mempertahankan sejumlah kapal induk di kawasan konflik dalam waktu lama juga membutuhkan dukungan logistik yang sangat besar.

Ia turut menyoroti ketergantungan pada jalur pasokan yang menjangkau Diego Garcia, sekitar 2.500 mil dari kawasan Teluk. Jarak tersebut menambah kompleksitas dalam menopang operasi militer berkepanjangan.

Mearsheimer menilai kombinasi keterbatasan logistik, tekanan operasional, dan persoalan amunisi membuat rencana serangan udara berkepanjangan terhadap Iran jauh lebih sulit daripada yang digambarkan dalam narasi politik.

Invasi Darat Dinilai Tidak Realistis

Selain kekuatan udara, Mearsheimer mempertanyakan kemungkinan AS melancarkan invasi darat ke wilayah Iran.

Ia menjelaskan bahwa jumlah total personel militer AS di Timur Tengah tidak dapat disamakan dengan jumlah pasukan tempur yang siap digunakan untuk operasi invasi. Sebagian besar personel memiliki tugas pendukung, termasuk awak kapal dan unsur pendukung militer lainnya.

Dalam perhitungannya, jumlah pasukan yang berpotensi digunakan untuk invasi darat hanya sekitar 7.500 personel. Angka itu, menurutnya, masih sangat jauh dari kebutuhan operasi militer untuk menghadapi negara sebesar Iran.

Mearsheimer mengutip perkiraan pensiunan jenderal Angkatan Darat AS, Barry McCaffrey, yang disebut menilai bahwa penguasaan Selat Hormuz dapat membutuhkan sekitar 150.000 pasukan tempur dan waktu tiga hingga enam bulan.

Perbandingan tersebut menjadi dasar bagi Mearsheimer untuk menilai bahwa pengerahan pasukan dalam jumlah terbatas tidak memadai untuk melaksanakan invasi berskala besar, apalagi mempertahankan wilayah yang telah dikuasai.

Ia juga membandingkan situasi itu dengan invasi Rusia ke Ukraina pada Februari 2022. Menurut perkiraannya, Rusia mengerahkan sekitar 190.000 personel pada tahap awal invasi, tetapi jumlah tersebut tidak cukup untuk menguasai dan mempertahankan seluruh wilayah yang semula berhasil direbut.

Mearsheimer menekankan bahwa Iran memiliki populasi sekitar dua kali lipat Ukraina dan kondisi geografis yang lebih menantang bagi pasukan penyerang.

Dengan pertimbangan tersebut, ia menilai operasi darat terhadap Iran berpotensi menjadi perang berkepanjangan dengan kebutuhan personel dan sumber daya yang jauh melampaui kemampuan pengerahan awal AS.

Ancaman Korban Jiwa Bisa Memicu Tekanan Politik

Risiko invasi, menurut Mearsheimer, tidak hanya berkaitan dengan persoalan militer. Besarnya korban jiwa juga berpotensi memicu tekanan politik di dalam negeri AS.

Ia menilai penolakan publik terhadap perang dapat meningkat apabila tentara AS mulai kembali dalam jumlah besar sebagai korban tewas, sementara operasi militer tidak menunjukkan hasil yang jelas.

Jika invasi berlangsung selama berbulan-bulan tanpa kepastian kemenangan, pemerintahan Trump berpotensi menghadapi tekanan domestik yang semakin besar.

Mearsheimer juga menyoroti tantangan dalam mengerahkan pasukan amfibi ke pantai Iran. Kapal-kapal besar yang membawa pasukan Marinir berpotensi menjadi sasaran rudal jelajah Iran apabila mendekati garis pantai.

Menurutnya, ancaman tersebut dapat mempersulit upaya pendaratan pasukan, bahkan sebelum operasi darat dimulai.

Karena itu, ia menilai persoalan utama bukan sekadar berapa banyak pasukan yang dapat dikirim ke kawasan konflik, melainkan apakah pasukan tersebut dapat dikerahkan, dipertahankan, dan digunakan untuk mencapai tujuan strategis.

Tekanan Ekonomi Belum Tentu Membuat Iran Menyerah

Di luar persoalan militer, Mearsheimer membahas strategi tekanan ekonomi AS terhadap Iran. Ia mengakui bahwa blokade, sanksi, dan berbagai kebijakan pembatasan telah menimbulkan kerusakan besar terhadap perekonomian Iran.

Namun, ia meragukan bahwa tekanan tersebut akan secara otomatis membuat Teheran menyerah.

Mearsheimer mengemukakan tiga alasan utama. Pertama, menurut penilaiannya, sejarah perang besar tidak memberikan dasar yang kuat untuk menyimpulkan bahwa blokade ekonomi saja dapat memaksa sebuah negara menyerah.

Ia mencontohkan Perang Dunia I, ketika blokade terhadap Jerman dan sekutunya ikut memperburuk kondisi ekonomi mereka. Meski demikian, penyerahan Jerman pada November 1918 juga berkaitan erat dengan perang darat besar di Front Barat dan Front Timur.

Dalam konteks Iran, Mearsheimer menilai tekanan ekonomi tidak disertai keunggulan militer yang cukup untuk memastikan kemenangan. Ia bahkan mempertanyakan apakah strategi serangan udara AS mampu memberikan hasil yang menentukan.

Alasan kedua berkaitan dengan persepsi ancaman eksistensial. Menurut Mearsheimer, apabila pemerintah Iran memandang perang sebagai ancaman terhadap keberlangsungan negaranya, tekanan ekonomi yang semakin berat belum tentu mendorong penyerahan diri.

Sebaliknya, kondisi tersebut justru dapat memperkuat tekad untuk terus melawan.

Alasan ketiga adalah potensi eskalasi. Mearsheimer memperingatkan bahwa Iran masih memiliki kemampuan untuk melakukan serangan balasan terhadap sasaran strategis di kawasan Teluk dan Israel.

Infrastruktur Energi Teluk Terancam

Mearsheimer menilai salah satu risiko terbesar dalam konflik tersebut adalah kemungkinan serangan terhadap infrastruktur energi dan fasilitas desalinasi air di kawasan Teluk.

Ia memperingatkan bahwa apabila Iran merasa terdesak hingga batas kemampuannya, Teheran dapat membalas dengan menyerang fasilitas minyak, jalur ekspor energi, serta instalasi penting lainnya.

Negara-negara Teluk yang sangat bergantung pada ekspor minyak dan fasilitas pengolahan air laut untuk memenuhi kebutuhan air bersih berpotensi menghadapi dampak serius jika infrastruktur tersebut mengalami kerusakan besar.

Menurut Mearsheimer, serangan semacam itu tidak hanya menimbulkan kerugian bagi negara-negara yang menjadi sasaran, tetapi juga dapat mengganggu perekonomian internasional.

Gangguan pasokan energi dari Timur Tengah berpotensi meningkatkan tekanan terhadap harga minyak, biaya transportasi, dan inflasi di berbagai negara.

Karena itu, ia memperingatkan bahwa upaya menekan Iran hingga menyerah justru dapat meningkatkan kemungkinan terjadinya eskalasi yang lebih luas.

Pasokan Minyak dan Ekonomi Dunia Masih Rentan

Mearsheimer juga menolak anggapan bahwa pemulihan arus minyak dari kawasan Teluk dengan sendirinya menunjukkan bahwa dampak ekonomi perang telah terkendali.

Ia merujuk pada laporan mengenai peningkatan efektivitas serangan Iran terhadap jalur pelayaran dan ancaman terhadap distribusi minyak. Ia juga menyinggung konflik yang melibatkan kelompok Houthi dan Arab Saudi, termasuk risiko serangan terhadap infrastruktur minyak Saudi.

Menurutnya, meskipun arus minyak sempat mendekati tingkat sebelum perang, kondisi tersebut belum menjamin stabilitas pasokan dalam jangka panjang.