PROGRES.ID – Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengklaim telah mencegat dan menembak jatuh sebuah drone pengintai jarak jauh MQ-9 Reaper milik Amerika Serikat di wilayah udara Selat Hormuz. Menurut IRGC, insiden tersebut menambah jumlah drone MQ-9 milik AS yang ditembak jatuh sejak dimulainya konflik Amerika Serikat-Israel dengan Iran menjadi 54 unit.

Dalam pernyataan yang dirilis Selasa, Departemen Hubungan Masyarakat IRGC menyebut pesawat nirawak itu dihancurkan oleh sistem pertahanan udara terbaru milik Pasukan Dirgantara IRGC. Sistem tersebut, menurut pihak Iran, beroperasi sebagai bagian dari jaringan pertahanan udara terpadu negara itu.

Klaim terbaru ini muncul setelah Iran sebelumnya melaporkan sejumlah insiden serupa di sekitar Selat Hormuz. Pada 21 September, IRGC menyatakan telah menembak jatuh sebuah drone MQ-1 Predator milik AS di kawasan tersebut.

IRGC menggambarkan MQ-1 sebagai pesawat nirawak yang telah mencatat sekitar 20.000 jam penerbangan di Afghanistan dan mengaitkannya dengan julukan “Butcher of Kandahar”. Menurut pernyataan Iran, MQ-1 telah dipensiunkan dari armada tempur Angkatan Laut dan Angkatan Udara AS beberapa tahun lalu, kemudian digantikan oleh MQ-9 Reaper.

Pihak IRGC juga mengeklaim Amerika Serikat kembali menggunakan MQ-1 yang lebih tua setelah kehilangan sejumlah besar drone MQ-9 selama perang dengan Iran. Namun, pernyataan tersebut tidak disertai rincian independen mengenai jumlah kerugian drone AS.

Dalam pengumuman terpisah, Angkatan Darat Iran menyatakan sistem pertahanan udara buatan dalam negeri telah menghancurkan sebuah drone pengintai Orbiter. Menurut militer Iran, insiden itu terjadi di wilayah tenggara negara tersebut, di kawasan yang berada dalam cakupan jaringan pertahanan udara terpadu Iran.

Konflik Iran-AS-Israel dan Ketegangan di Selat Hormuz

Konflik yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel meningkat setelah Washington dan Tel Aviv melancarkan serangan terhadap Iran pada 28 Februari. Sekitar 40 hari kemudian, pada 8 April, kedua pihak disebut menyepakati gencatan senjata setelah berlangsungnya serangan balasan Iran.

Namun, ketegangan kembali meningkat pada Juli. Menurut narasi yang disampaikan pihak Iran, Amerika Serikat melancarkan serangkaian serangan udara dan memberlakukan blokade laut, yang dinilai Teheran melanggar nota kesepahaman atau Memorandum of Understanding (MoU) yang ditandatangani pada 17 Juni.

Iran kemudian mengklaim melancarkan serangan balasan terhadap sejumlah posisi strategis Amerika Serikat di kawasan Asia Barat. Teheran juga mengumumkan penutupan Selat Hormuz bagi seluruh kapal.

Selat Hormuz merupakan jalur pelayaran strategis bagi perdagangan energi dunia. Setiap eskalasi militer di kawasan ini berpotensi mengganggu lalu lintas kapal dan meningkatkan kekhawatiran terhadap stabilitas pasokan energi global.

Hingga informasi dalam laporan sumber tersebut diterbitkan, klaim penembakan drone MQ-9 Reaper terbaru dan angka total 54 unit masih bersumber dari pernyataan pihak Iran. Belum ada konfirmasi independen yang disertakan dalam laporan tersebut mengenai insiden terbaru maupun jumlah drone AS yang diklaim telah ditembak jatuh.