PROGRES.ID, JAKARTA – Harga minyak mentah dunia kembali menguat tajam pada akhir perdagangan Jumat (30/10/2026). Minyak jenis Brent bahkan ditutup di atas US$117 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat menembus US$104 per barel.

Kenaikan tersebut dipicu meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap gangguan pasokan energi dari Timur Tengah. Ketegangan yang melibatkan Iran, serangan terhadap kapal tanker di Selat Hormuz, serta ancaman terhadap infrastruktur minyak Arab Saudi membuat pelaku pasar semakin waspada.

Mengutip data Investing.com, kontrak berjangka Brent tercatat di sekitar US$117,75 per barel, naik 2,50 persen. Sementara itu, laporan Reuters mencatat kontrak Brent pengiriman Desember ditutup pada US$117,64 per barel, sedangkan WTI mengakhiri perdagangan di US$104,12 per barel.

Penguatan ini sekaligus memperpanjang tren kenaikan harga minyak sepanjang Oktober. Brent mencatat kenaikan bulanan 13,6 persen, sedangkan WTI menguat 15,2 persen.

Harga Minyak Brent dan WTI Kompak Menguat

Pergerakan harga kedua acuan minyak dunia tersebut menunjukkan bahwa pasar energi sedang menghadapi tekanan dari sisi pasokan.

Berdasarkan laporan Reuters, Brent untuk pengiriman Desember naik US$2,76 atau sekitar 2,4 persen menjadi US$117,64 per barel. Kontrak tersebut menyentuh level tertinggi US$118 sebelum perdagangan berakhir.

Sementara itu, minyak mentah WTI naik US$2,12 atau 2,08 persen menjadi US$104,12 per barel.

Data Investing.com juga memperlihatkan penguatan Brent di kisaran US$117,75 per barel. Perbedaan kecil dengan angka penutupan Reuters berkaitan dengan waktu pencatatan dan pembaruan kuotasi pasar.

Berikut gambaran harga minyak dunia pada penutupan perdagangan Jumat (30/10/2026):

Jenis minyak Harga per barel Perubahan
Brent

US$117,64

+2,4%

WTI

US$104,12

+2,08%

Kenaikan tersebut membawa kedua acuan minyak ke level tertinggi dalam sekitar enam bulan terakhir.

Serangan Kapal Tanker di Selat Hormuz Jadi Pemicu

Salah satu faktor yang membuat harga minyak kembali melonjak adalah meningkatnya risiko keamanan di Selat Hormuz.

Jalur pelayaran tersebut memiliki peran strategis karena menjadi salah satu pintu utama pengiriman minyak dan produk energi dari negara-negara Teluk ke pasar internasional.

Reuters melaporkan sebuah kapal tanker terkena perangkat peledak yang dipasang pada lambung kapal oleh perahu kecil. Insiden tersebut dilaporkan oleh UK Maritime Trade Operations (UKMTO), lembaga keamanan maritim Inggris.

Serangan itu menjadi perhatian besar karena merupakan insiden penggunaan ranjau tempel yang berhasil mengenai kapal di kawasan tersebut sejak perang Amerika Serikat dan Israel melawan Iran dimulai pada Februari 2026.

Ketidakpastian mengenai keamanan pelayaran membuat pelaku pasar memperhitungkan kemungkinan gangguan pengiriman minyak dalam skala lebih luas.

Jika jalur tersebut terganggu, pengiriman minyak dari kawasan Teluk berpotensi mengalami keterlambatan. Kondisi ini dapat memperketat pasokan global dan mendorong harga semakin tinggi.

Ketegangan Iran dan Ancaman terhadap Infrastruktur Minyak Saudi

Selain insiden kapal tanker, pasar energi juga dibayangi meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah.

Kelompok Houthi Yaman pada Kamis (29/10/2026) mengklaim telah menyerang sejumlah fasilitas di Arab Saudi. Target yang disebutkan mencakup kilang minyak Ras Tanura, kilang Rabigh, serta fasilitas milik perusahaan energi Saudi Aramco di Abqaiq.

Kelompok tersebut juga mengklaim menyerang sejumlah bandara di Arab Saudi.

Klaim serangan tersebut menambah kekhawatiran karena Arab Saudi merupakan salah satu produsen dan eksportir minyak terbesar dunia. Gangguan terhadap fasilitas produksi maupun pengolahan minyaknya dapat memberikan dampak besar terhadap pasar energi internasional.

Pemerintah Amerika Serikat juga memerintahkan sebagian pegawai pemerintah non-darurat beserta keluarga mereka meninggalkan Arab Saudi dengan alasan risiko keamanan.

Meski demikian, kenaikan harga tidak hanya dipengaruhi ancaman terhadap fasilitas produksi. Ketidakpastian mengenai kelanjutan konflik dan keamanan jalur distribusi turut membuat pasar memasukkan premi risiko geopolitik ke dalam harga minyak.