Pasokan Minyak yang Terbatas Membuat Pasar Semakin Sensitif
Kenaikan harga minyak juga berkaitan dengan kondisi pasokan fisik yang relatif ketat.
Dalam laporan terpisah, Reuters mengutip survei terhadap 32 ekonom dan analis yang menunjukkan bahwa proyeksi rata-rata harga Brent untuk 2026 meningkat menjadi US$92,88 per barel. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan proyeksi bulan sebelumnya sebesar US$89,05.
Sementara itu, proyeksi rata-rata WTI untuk 2026 naik menjadi US$86,60 per barel dari sebelumnya US$83,90.
Para analis menilai gangguan aliran energi dari Timur Tengah, persediaan yang menipis, serta tingginya biaya pengiriman membuat pemulihan pasokan membutuhkan waktu lebih panjang.
Reuters juga mencatat pasar minyak fisik mengalami tekanan yang tidak biasa. Meskipun aliran minyak melalui Selat Hormuz mulai pulih dibandingkan kondisi terburuk sebelumnya, pasar masih menghadapi biaya pengiriman tinggi dan ketatnya ketersediaan minyak untuk pengiriman segera.
OPEC+ Diperkirakan Belum Mengubah Kebijakan Produksi Secara Besar-besaran
Perhatian pelaku pasar berikutnya tertuju pada pertemuan negara-negara produsen minyak yang tergabung dalam OPEC+.
Menurut laporan Reuters, tujuh negara utama OPEC+ dijadwalkan menggelar pertemuan secara daring pada Minggu. Para pelaku pasar memperkirakan kelompok tersebut akan mempertahankan target produksi untuk Desember tanpa perubahan besar.
Keputusan produksi OPEC+ menjadi salah satu faktor penting dalam menentukan keseimbangan pasar minyak dunia.
Apabila produksi tidak meningkat secara signifikan ketika pasokan terganggu, tekanan terhadap harga berpotensi bertahan. Sebaliknya, tambahan produksi dapat membantu meredakan kekhawatiran pasar apabila distribusi minyak kembali normal.
Namun, keputusan akhir tetap bergantung pada perkembangan kondisi pasar dan hasil pertemuan negara-negara produsen.
Bagaimana Prospek Harga Minyak Dunia Selanjutnya?
Pergerakan harga minyak dalam beberapa pekan ke depan diperkirakan masih sangat dipengaruhi perkembangan konflik Timur Tengah.
Jika ketegangan meningkat dan jalur pengiriman energi kembali terganggu, Brent dan WTI berpotensi menghadapi tekanan kenaikan lanjutan.
Sebaliknya, perkembangan diplomasi antara Amerika Serikat dan Iran dapat membantu meredakan kekhawatiran pasar. Reuters sebelumnya melaporkan adanya upaya mediasi Qatar untuk mendorong kesepakatan antara kedua negara.
Namun, proses diplomasi tersebut masih menghadapi hambatan. Iran telah menerima surat dari Wakil Presiden AS JD Vance, tetapi belum memberikan tanggapan resmi yang membuka jalan bagi kesepakatan.
Selain faktor geopolitik, investor juga akan memperhatikan produksi Amerika Serikat, perkembangan ekspor Arab Saudi, persediaan minyak, serta kebijakan OPEC+.
Dengan kenaikan bulanan yang cukup besar, pasar energi memasuki November dalam situasi penuh ketidakpastian. Perkembangan di Timur Tengah akan menjadi salah satu penentu utama arah harga minyak dunia berikutnya.

Komentar