Kena Mental! Iran Sebut Ada Ratusan Tentara AS Ajukan Pengunduran Diri

favicon progres.id
tentara amerika serikat
Tentara Amerika Serikat (Foto: Istimewa)

PROGRES.ID – Ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat kembali memanas setelah muncul klaim dari pihak Iran mengenai menurunnya moral pasukan AS di kawasan Timur Tengah, bersamaan dengan keraguan atas efektivitas blokade laut di Selat Hormuz.

Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) melalui unit intelijennya menyatakan bahwa pasukan AS mengalami tekanan psikologis yang signifikan akibat serangan berulang yang dilakukan Iran. Klaim tersebut menyebut adanya rasa frustrasi dan keputusasaan yang meluas di kalangan militer AS.

Menurut laporan yang juga dikutip media Iran International, IRGC menyebut penilaian tersebut didasarkan pada data lapangan dan analisis intelijen. Mereka menuding serangan rudal dan drone Iran ke pangkalan militer AS di kawasan Teluk telah memengaruhi kesiapan tempur serta kepercayaan diri pasukan.

Dalam klaimnya, IRGC juga menyebut sekitar 734 permintaan pengunduran diri atau pemutusan dinas diajukan oleh personel militer AS di tiga negara kawasan Teluk selama bulan pertama konflik. Permintaan tersebut diklaim mencakup berbagai tingkatan, dari prajurit hingga komandan senior.

Namun, hingga kini belum ada konfirmasi independen dari pihak Amerika Serikat terkait angka maupun kondisi yang disampaikan Iran.

Di saat yang sama, efektivitas blokade laut yang diberlakukan AS terhadap pelabuhan Iran juga mulai dipertanyakan. Data pelayaran menunjukkan sejumlah kapal tetap mampu melintasi Selat Hormuz tanpa hambatan berarti.

Salah satu kasus yang menjadi sorotan adalah kapal tanker Rich Starry, yang dilaporkan berhasil keluar dari Teluk Persia meski berada di bawah sanksi AS. Data pelacakan yang dikutip Reuters menunjukkan kapal tersebut melewati jalur strategis itu tanpa insiden.

Kapal lain, Elpis, juga dilaporkan berhasil melintasi Selat Hormuz pada hari pertama penerapan blokade. Insiden ini dinilai sebagai ujian awal terhadap efektivitas kebijakan yang diumumkan oleh Presiden AS Donald Trump.

Blokade tersebut diberlakukan setelah gagalnya perundingan damai antara AS dan Iran di Islamabad. Washington menyatakan langkah itu bertujuan menekan aktivitas perdagangan Iran, khususnya ekspor energi.

Sementara itu, Wakil Presiden AS JD Vance mengakui bahwa negosiasi belum menghasilkan kesepakatan. Ia menegaskan bahwa AS tetap berupaya mencapai perjanjian yang lebih luas, termasuk memastikan Iran tidak mengembangkan senjata nuklir.

Vance juga menyebut pembicaraan tersebut sebagai langkah bersejarah, mengingat pertemuan tingkat tinggi antara kedua negara belum pernah terjadi selama hampir lima dekade.

Di tengah situasi ini, sejumlah analis menilai tekanan terhadap strategi AS semakin meningkat. Selain tantangan di lapangan, narasi yang dibangun Iran terkait kondisi pasukan AS dan kegagalan blokade turut memperkuat persepsi bahwa kebijakan Washington menghadapi hambatan serius.

Meski demikian, klaim-klaim tersebut masih memerlukan verifikasi lebih lanjut, sementara situasi di Selat Hormuz tetap menjadi perhatian utama karena perannya yang vital dalam distribusi energi global.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *