PROGRES.ID – Iran mengklaim telah memporakporandakan pangkalan udara Nevatim di Israel dan menghancurkan 20 unit Jet F-35 serta infrastruktur militer IDF lainnya. Namun, Pihak berwenang Israel masih menghitung kerusakan yang disebabkan oleh serangan malam hari 1 Oktober 2024 tersebut.
Mengutip situs berita BBC berjudul “What we know about Iran’s missile attack on Israel,” tepat di sebelah utara Tel Aviv pada hari Rabu, dekat dengan markas besar Mossad, seorang koresponden BBC menemukan beberapa mobil yang rusak parah dan tumpukan tanah di sebelah jalan yang terkena dampak rudal yang dikatakan telah menyebabkan kawah sedalam antara 8m dan 10m.
Kota terdekat, Hod HaSharon, juga mengatakan sekitar 100 rumah rusak akibat ledakan rudal dan pecahan peluru.
Dan sebuah video yang dirilis oleh IDF menunjukkan kepala Komando Front Dalam Negeri mengunjungi sebuah sekolah yang terkena rudal di daerah Gedera, tepat di sebelah timur Ashkelon, yang menyebabkan kerusakan parah pada sebuah ruang kelas.
The Wall Street Journal mengutip pernyataan pejabat AS bahwa rudal yang menargetkan pangkalan udara Nevatim menyebabkan kerusakan kecil. Namun, alasan utama IDF menolak berkomentar karena mereka tidak akan memberikan informasi yang akan membantu Iran memahami efektivitas serangannya.
Paramedis layanan ambulans Magen David Adom Israel merawat dua orang dengan luka ringan akibat pecahan peluru di daerah Tel Aviv, serta beberapa orang dengan luka ringan akibat terjatuh saat mereka pindah ke tempat perlindungan.
pada bagian lain, otoritas Pertahanan Sipil Palestina mengatakan seorang pria Palestina tewas ketika ia terkena pecahan rudal yang jatuh di kota Jericho, Tepi Barat.
Rekaman CCTV menunjukkan bagian belakang rudal hitam besar jatuh tepat ke seorang pria saat ia berjalan di sepanjang jalan pada malam hari. Tidak jelas apakah rudal itu telah dicegat.
The New York Times mengidentifikasi dia sebagai Sameh al-Asali, seorang pekerja konstruksi Palestina berusia 37 tahun dari Gaza yang telah berlindung di Jericho sejak dimulainya perang antara Israel dan Hamas Oktober lalu.












